Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Masa Pandemi dan Tradisi Berbuat Baik Kita

Gambar
BERBUAT baik merupakan salah satu pilihan hidup yang baik. Apalah lagi pada masa pandemi: Covid-19 ini, berupaya menjadi pelaku kebaikan adalah keniscayaan. Berbuat baik bisa dilakukan melalui lisan, sikap dan tingkah laku, juga bisa dalam bentuk respon dan kepedulian pada sesama. Hal lain, tentu saja melalui tulisan yang menyadarkan dan inspiratif yang membuat pembaca semakin terdorong untuk melakukan kebaikan dalam hidupnya. Termasuk dengan senyuman dan sapaan tulus untuk siapapun di luar sana, termasuk melalui media sosial. Kebaikan pun bisa dilakukan oleh siapapun, apa pun latar belakangnya.  Di masyarakat kita, berbuat baik pada sesama sudah menjadi hal biasa. Namun, kita perlu sokongan agar kebiasaan semacam itu tetap terjaga dan kualitasnya semakin baik. Sudah menjadi maklum bahwa kebaikan biasanya bakal terbalas kebaikan. Bahkan satu kebaikan akan beranak pinak menjadi banyak kebaikan. Satu kebaikan pun menjadi kebaikan-kebaikan baru. Bukan satu kebaikan tapi banyak kebaikan. E

Covid-19 pun Menyadarkan Kita

Gambar
COVID-19 tiba-tiba menjadi perbincangan global sejak awal 2020 silam hingga kini. Hampir tak ada pemberitaan media massa dan media online yang menepikan berita dan informasi terkini seputar virus ini. Bahkan berbagai akun dan group media sosial pun dipenuhi oleh obrolan seputar virus yang sama. Sebetulnya, virus ini sudah ditemukan dan menjalar di China, tepatnya di Wuhan, pada akhir 2019. Namun mulai menjalar ke berbagai negara di dunia sejak awal 2020. Khusus untuk Indonesia, virus ini masuk sejak pertengahan Februari 2020, namun secara resmi diumumkan sebagai bencana non alam negara pada 2 Maret 2020.  Tak sedikit orang yang terpapar oleh virus ini. Virus ini pun benar-benar membabi buta melakukan penyerangan. Ia pun terkenal tak mengenal usia dan jenis kelamin mereka yang dibidik menjadi objeknya. Ia tak peduli agama, suku, ras dan latar sosial lainnya bagi orang yang menjadi targetnya. Ia tak memperhatikan jabatan, profesi dan status sosial para korbannya. Ia tak ada urusan dengan

Indahnya Islam Di Indonesia

Gambar
MENULIS merupakan tradisi klasik yang sudah menjadi tradisi manusia lintas peradaban, baik Timur maupun Barat. Secara khusus, dalam peradaban Islam, menulis merupakan tradisi yang sudah digiatkan sejak lama. Bahkan tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh tradisi menulis para ulama, pewaris sekaligus pelanjut peran strategis kenabian. Tak terhitung jumlah kitab yang mereka karyakan. Tema dan fokus pembahasannya sangat beragam. Kelak, karya mereka pun bukan saja dirujuk oleh umat Islam, tapi juga oleh berbagai umat beragama lintas benua.  Pada era ini, terutama pada era dimana teknologi informasi dan komunikasi berkembang begitu pesat, tradisi menulis tetap menjadi tradisi yang menarik dan punya dampak besar. Betul bahwa berbagai aplikasi muncul bagai jamur di musim hujan. Pada awalnya handphon atau HP hanya berfungsi sebagai media komunikasi jarak jauh, kini malah menjadi sumber bagi banyak hal. Bukan saja menjadi media komunikasi, tapi juga sumbe

Inspirasi Mang Udin, Pedagang Sate yang Gila Baca Buku

Gambar
Alhamdulillah hari ini Selasa 27 Juli 2021 setelah shalat Ashar saya kembali bersua Pedagang Sate keliling di depan rumah di kompleks perumahan. Tepatnya di Perumahan Arum Sari, di Talun, Cirebon-Jawa Barat. Ini merupakan pertemuan yang ke sekian kalinya setelah sebelumnya sudah bertemu. Seingat saya, sudah hampir dua bulan berlalu saya bersua dengannya, kini baru bisa bersua dan saling menyapa lagi. Sebuah pertemuan yang sangat berharga dan dirindukan insyaa Allah.  Saya termasuk yang haru dan bangga padanya. Begitu giat ia berdagang, mendorong gerobak sate yang ia jual. Saya semakin haru dan bangga karena ia pun berkenan memiliki dan membaca buku terbaru saya yang berjudul "Kalo Cinta, Nikah Aja!", yang baru saja diterbitkan oleh Penerbit Zahir Publishing, Yogjakarta.  Termasuk beberapa bulan sebelumnya ia juga berkenan memiliki dan membaca buku saya yang berjudul "Melahirkan Generasi Unggul", "Plan Your Success", "Pendidikan Ramadan" dan "

Bersyukurlah, Niscaya Badai Covid-19 Segera Berlalu!

Gambar
DI TENGAH bencana non alam atau masa pandemi: Covid-19 ini, mesti diakui bahwa tak sedikit yang menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Permasalahan dalam beragam wajah pun muncul seketika. Rasanya seperti tak ada lagi jalan keluar atau solusi yang bisa ditempuh agar berbagai masalah hidup terselesaikan. Sehingga tak sedikit yang frustasi, sakit jiwa dan sampai pada level yang berbahaya yaitu mencela atau mengingkari ketuhanan Allah.  Pada aksi lanjutannya, dalam beberapa kesempatan ada saja yang mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta makhluk-Nya. Mereka pun enggan mengakui Allah sebagai Tuhan yang layak disembah. Mereka pun sangat berani mengatakan bahwa Allah itu tak layak disembah dan tidak memiliki otoritas terhadap makhluk-Nya. Bagi mereka, manusia punya otonom untuk menentukan nasibnya, sehingga tak perlu menghamba dan bersyukur kepada-Nya. Atau tak perlu lagi berurusan dengan Zat Yang Kuasa itu.  Sikap semacam itu perlu kita perbaiki. Saling menasehati dalam kebaikan

Ulama dan Cita-cita Peradaban Islam

Gambar
BELUM lama ini saya berkesempatan membaca buku Hakadza Zhahara JÄ«lu Shalahuddin wa Hakadza ’Ä€dat al- Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib. Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun.  Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius dan pahlawan jihad. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Musli

Menambah Energi dengan Menjemur

Gambar
ADA banyak orang yang telah menyarankan untuk berjemur di bawah sinar matahari, terutama di saat merebaknya penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Konon, berjemur di bawah sinar matahari mempunyai banyak manfaat kesehatan, salah satunya meningkatkan daya tahan tubuh. Paparan sinar matahari membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami. Vitamin D diketahui sangat penting untuk kesehatan. Vitamin D yang dihasilkan sinar matahari berperan besar dalam kesehatan tulang. Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan bahwa mendapatkan 5 hingga 15 menit sinar matahari pada lengan, tangan, dan wajah dalam kurun 2 sampai 3 kali sepekan sudah cukup untuk memperoleh vitamin D. Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan rakhitis pada anak-anak dan penyakit tulang seperti osteoporosis dan osteomalacia. Kebutuhan sinar matahari tentu bukan hanya untuk anak-anak atau mereka yang terkena penyakit, siapapun sejatinya sangat menbutuhkannya.  Selain Vitamin

Berhati-hatilah Pada Bantuan!

Gambar
AWAL tahun 2020 merupakan awal negeri kita Indonesia terkena Corona Virus Disease 2019 yang akrab kita sebuat dengan Covid-19. Ia adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome corona virus 2 (SARS-CoV-2).  Virus ini nyata menghadirkan dampak yang bertubi-tubi dalam segala aspek kehidupan kita. Terutama aspek kesehatan dan ekonomi. Sehingga pemerintah menginisiasi untuk menyediakan anggaran khusus bahkan dibagikan ke warga yang masuk kategori sesuai yang sudah ditentukan.  Berikutnya, tak sedikit yang berpesta karena dapat bantuan beragam nama dan sebab. Baik karena kondisi ekonomi maupun yang kena dampak Covid-19. Gegara itu, mental tangan di bawah semakin membentuk alam bawa sadar sebagian kita bahwa dirinya layak mendapat bantuan dengan berbagai nama. Uniknya, tak sedikit menggunakan bantuan uang tersebut untuk berpesta dalam beragam cara. Bahkan ada juga yang menggunakannya untuk membeli rokok dan merokoknya, yang sudah bisa dipastikan akan dapat merus

Melawan Virus Wahn dan Wuhan dengan Iman yang Kokoh

Gambar
Alhamdulillah hari ini Senin, 19 Juli 2021 pukul 07.00 - 08.15 WIB saya secara online bisa menghadiri Tausiyah Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr. H. Adian Husaini, M.Si., menjelang Idul Adha 1442 H yang jatuh pada Selasa 20 Juli 2021 (10 Dzulhijah 1442 H). Seperti biasa saya kerap mencatat poin penting acara serupa, kali ini saya mencatat poin yang disampaikan, sehingga bisa dinikmati pembaca di luar sana. Tulisan ini tentu tidak merekam seluruh tausiyah yang dihadiri oleh sekitar 50-an peserta dari seluruh Indonesia kali ini, saya hanya berupaya untuk mencatat poin-poin yang bisa saya ingat dan cerna dengan beberapa elaborasi.   Pada bagian awal, Dr. Adian mengingatkan kita untuk meningkatkan beberapa hal penting. Pertama, banyak bersyukur dan mengisi waktu yang ada dengan amal terbaik dan bermanfaat. Hal ini dilakukan agar kita tidak menjadi hamba yang serakah, yang mengingkari berbagai nikmat-Nya. Mesti diakui bahwa manusia kerap mengingkari nikmat sehat dan wakt

Pengalaman Kecil Melawan Gejala Covid-19

Gambar
PADA Desember 2020 dan Januari 2021 lalu saya bertemu dengan seorang pejabat di sebuah tempat di Jakarta. Kala itu sang pejabat ditemani oleh empat orang timnya. Berikutnya, pada Maret 2021 saya ke Banten. Saat itu saya bertemu dengan seorang akademisi sebuah kampus ternama di Jakarta. Kala itu sang dosen ditemani oleh beberapa kolega dan sopirnya. Ketika itu, laju tularan Covid-19 di Jakarta dan Banten sudah meningkat. Sebagai upaya menghindar agar tak terpapar, saya benar-benar menjaga jarak, mencuci tangan, dan selalu meminum air hangat. Pokoknya, disiplin menjaga protokol kesehatan.  Sekembali dari tiga acara yang berbeda waktu itu, saya mengalami gejala-gejala yang agak berbeda dari biasanya. Saya pun mengalami gejala-gejala terpapar Covid-19 seperti yang belakangan dialami oleh banyak orang. Badan panas dan berkeringat, demam dan menggigil, batuk berserak, hidung tersumbat, nafas tersengal-sengal, dada nyesak, engga mau dengar suara apapun dan bawaannya emosional alias marah-mara

Refleksi 113 Tahun Mohammad Natsir

Gambar
MOHAMMAD Natsir, siapa yang tak mengenal nama, sosok, ide dan pemikirannya? Hampir semua kalangan mengenal bahkan mengkaji dan mendiskusikannya di berbagai forum dan momentum. Bukan saja dalam negeri tapi juga di luar negeri. Natsir adalah Perdana Menteri ke-5 Indonesia. Beliau lahir di Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908, meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun. Beliau adalah putra dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Kedua orangtuanya adalah sosok yang sederhana namun disiplin juga teguh mendidik anak-anaknya. Pada hari ini 17 Juli 2021, Natsir genap 113 tahun.   Pada masa kecilnya Natsir belajar di HIS Solok dan di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Selanjutnya pada tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO, dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung hingga tamat pada tahun 1930. Pada saat di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan nasional antara lain Syafruddin Prawira