Mengenang TGH. Musleh Kholil


"Telah meninggal dunia hari ini Kamis 21 Agustus 2025, pukul 12.00 WITA TGH. Musleh Kholil.  Jenazah disesemayangkan di rumah duka di Lelede, Banyumulek, Lombok Barat, NTB . Dan Insha Allah Almarhum akan dimakamkan pada hari Jumat, 22 Agustus 2025 setelah shalat Jumat, tempat di TPU Lelede, Banyumulek,” begitu kabar dari beberapa alumni Ponpes Nurul Hakim dan aktivis muslim di NTB melalui akun media sosial mereka yang saya baca siang ini, Rabu 21 Agustus 2025. 

Kabar tersebut mengingatkan saya pada sosok TGH. Musleh Kholil pada puluhan tahun silam. Saya berasal dari Manggarai Barat, NTT. Setelah lulus pendidikan sekolah dasar (SD), tepatnya Sekolah Dasar Katolik (SDK) pada 1996, saya langsung merantau untuk melanjutkan pendidikan di MTs dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB, dari tahun 1996 hingga 2002 silam.  

Di salah satu pondok pesantren terbesar di NTB ini saya mendapatkan pembinaan, pengasuhan dan pengajaran dari banyak ulama yang alim, berwibawa dan berwawasan luas. Begitu juga para Ustadzhnya, mereka bukan saja berpengalaman di lembaga pendidikan dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Mereka adalah teladan para santri sekaligus rujukan masyarakat NTB dan sekitarnya dalam memahami agama Islam.  

Salah satu ulama yang pernah membina, mengasuh dan mengajar saya adalah TGH. Musleh Khalil. Karena itu, kabar meninggalnya beliau kali ini bukan saja mengagetkan keluarga terdekat beliau dan keluarga besar pesantren yang beliau pimpin, tapi juga saya dan keluarga besar pondok pesantren Nurul Hakim. Baik yang masih di pondok maupun para alumni yang berdomisli dan berkarier di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negeri. Termasuk menantu beliau, sahabat baik saya, Dr. Ahmad Musyadad, yang kini masih aktif sebagai penterjemah khutbah Jumat di Masjid Haram. 

Mengenang TGH. Musleh Kholil menyisahkan banyak kesan dan kenangan indah juga berharga. Bukan saja dikenal jago berbahasa Arab dan Inggris, beliau juga sosok yang berwibawa, berwawasan luas dan memiliki pergaulan yang sangat luas, bahkan lintas latar belakang. Sehingga beliau diterima di semua kalangan masyarakat. Bukan saja oleh tokoh muslim, juga tokoh non muslim di NTB.  

Sebagai seorang santri, termasuk yang pernah merasakan nikmat dan lezatnya ilmu dan pengalaman yang beliau sampaikan kepada saya puluhan tahun silam, saya mengenang TGH. Musleh Kholil dalam beberapa hal penting. Tentu sebatas yang saya ingat dan rasakan ketika berinteraksi dengan beliau selama di Nurul Hakim puluhan tahun silam, termasuk setelah silaturahim ke rumah beliau pada Juni 2023 lalu. 

Pertama, ulama yang disiplin dan tegas. Saat menjadi pengajar di Nurul Hakim, beliau salah satu pengasuh sekaligus pembina yang disiplin dan tegas. Bukan saja saat mengajar, tapi juga dalam mengingatkan para santri dalam hal ibadah dan akhlak pada sesama. Tak terkecuali dalam menekuni berbagai mata ilmu. Dalam beberapa ceramahnya, beliau begitu lantang, tapi tetap meneduhkan hati. 

Bahkan kelak ketika bermasyarakat, beliau masih dikenal disiplin dan tegas. Disiplin dan tegas dalam makna, mengajak masyarakat ke jalan yang benar dengan tetap menjaga adab bermasyarakat. Beliau dikenal tak kompromi pada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun demikian, harus diakui beliau tetap mengedepankan cara-cara yang luhur dan beradab. Tanpa menyakiti perasaan dan hati masyarakat yang layak mendapatkan nasehatnya.  

Kedua, pecinta ilmu dan pendidikan. Kala itu, saya mengikuti arahan bagi para santri baru, tepatnya pertengahan tahun 1996, sekira bulan Juni atau Juli. Salah satu pembina santri yang memberi arahan adalah TGH. Musleh Kholil. Beliau mengingatkan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban orang beriman. Tapi ilmu, ungkap beliau, hanya akan memberi pencerahan dan berdampak manakala kita mencintainya. Ilmu yang kita cari karena cinta punya dampak yang berbeda pada diri juga kehidupan kita bila dibandingkan dengan mencari ilmu karena terpaksa.  

Beliau pun bercerita tentang pengalaman panjang saat menempuh pendidikan di Ponpes Modern Darusalam Gontor, Jawa Timur. Tradisi belajar di Gontor menjadi sebuah model yang unik dan berharga bagi para santri di banyak tempat, termasuk bagi TGH. Musleh Kholil, dari sejak masih sebagai santri, saat menjadi pengajar di lembaga pendidikan dan memimpin al-Muwahhidin hingga akhir hayatnya. 

Beliau memang pecinta ilmu yang tulus dan pencinta pendidikan yang tak kenal lelah. Hal itu dibuktikan dengan keaktifan beliau di berbagai lembaga pendidikan selama puluhan tahun, termasuk di Nurul Hakim, bahkan kelak memimpin al-Muwahhidin di Lelede, tempat beliau berasal. Dua pondok pesantren ini merupakan dua dari lembaga pendidikan di NTB yang diminati oleh para santri dari berbagai daerah di NTB dan sekitarnya sejak lama hingga saat ini.  

Ketiga, pecinta buku dan tradisi literasi. Pada Juni 2023 lalu, saya bersama beberapa teman dari NTB dan Jakarta berkesempatan silaturahim ke rumah sekaligus pondok pesantren yang beliau pimpin, al-Muwahhidin. Saat mengenalkan diri satu persatu, saya mendapat giliran terakhir. Saat itu, saya membawa beberapa buku yang dibedah di Nurul Hakim. Beliau merespon dengan sangat antusias dan memotivasi saya agar terus menjaga tradisi utama peradaban Islam ini: baca, tulis, dan muthola’aah. 

Rupanya beliau bukan saja suka mengoleksi kitab dan buku-buku, karena memang beliau ulama sekaligus pimpinan pondok pesantren, tapi juga aktif membaca. Bukan saja kitab-kitab, tapi juga buku-buku. Beliau mengaku, kalau tidak membaca sehari saja, seperti ada yang hilang. “Terus menjaga tradisi ini akhi. Ini warisan para ulama kita. Baik ulama terdahulu maupun ulama masa kini. Saya juga terbiasa membaca buku. Kadang harus dipaksa agar tidak ada yang kehilangan. Jazakumullah akhi,” ungkapnya.  

Inilah doa kami para santri untukmu wahai orangtua, ulama dan guru kami, “Ya Allah! Ampunilah dia (jenazah), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik daripada istrinya (di dunia), dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.” 

Meninggalnya TGH. Musleh Kholil mengingatkan kita pada sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR. Bukahri)

Hal lain, kita juga semakin mengingat pada ajal kematian yang akan menemui kita. Bukan pada kejadiannya saja, tapi bagaimana kita menyiapkan diri secara dini dan matang. Sehingga kelak bila ajal kematian itu tiba, kita lebih siap. Betapa banyak dosa dan khilaf kita yang masih layak kita mintakan kepada Allah agar Ia mengampuni kita. Bila ada yang meninggal dunia, itu sejatinya nasehat agar kita berbenah dan menghitung diri. Mengingat bekal kita yang belum seberapa. Astaghfirullah…  

Kematian tidak mau tahu apapun profesi, jenis kelamin, suku, ras dan pangkat atau jabatan kita. Kematian tak kenal jumlah gaji, tunjangan dan nasab atau keturunan kita. Ulama, polisi, tentara, politisi, atau rakyat jelata pun pasti mengalami kematian. Bila ajal itu tiba, semua berakhir. Dan itu adalah tanda pertama kita akan memasuki kehidupan selanjutnya: akhirat, dengan seluruh rangkaian prosesnya, dari awal hingga menggapai dua tempat yang Allah sediakan sesuai amal kita masing-masing di dunia: surga atau neraka.  

Allah mengingatkan kepada kita dalam sebuah firman-Nya yang sangat agung, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185). (*) 


* Oleh: Syamsudin Kadir, Santri Ponpes Nurul Hakim Lombok 1996-2002


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an