Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto


BERBAGAI peristiwa memalukan dan memilukan telah terjadi beberapa bulan bahkan hari ke belakang. Mata, telinga dan hati kita menjadi saksi betapa negeri ini masih tertatih-tatih untuk maju ke titik yang mestinya kita sudah sampai sejak lama: memimpin dunia. Praktik korupsi yang semakin menjadi-jadi, penegak hukum yang terkesan tebang pilih, pemborosan anggaran yang terkesan disengaja, jabatan ganda yang tak memperdulikan kritik dan berbagai masalah lainnya merupakan tembok kokoh yang membuat negara kita berjalan di tempat bahkan mundur ke belakang. 

Bayangkan saja, mantan Ketua KPK Firli Bahuri yang sudah jadi tersangka belum juga ditangkap. Para koruptor yang mestinya diburu dan dimasukkan ke dalam penjara masih berpesta pora dan nyaris tak ada yang mampu memasukkan mereka ke dalam penjara. Kondisinya bertambah parah ketika terpidana masih bisa berlenggang dan muncul di layar TV. Bahkan masih menerima gaji dan fasilitas dari negara atau APBN karena masih menjadi komisaris di BUMN. Dan, menteri BUMN tak menganggap itu sebagai sebuah pelanggaran etika dan hukum. 

Belakangan DPR mendapat angin segar karena mendapat tambahan jatah uang selain gaji. Menteri Keuangan mengganggap itu sebagai sebuah kebijakan yang wajar kepada mereka yang dianggap sehari-hari menjadi wakil rakyat. Pada saat yang sama tak sedikit BUMN yang seharusnya menjadi darah sekaligus jantung negara justru mengalami kerugian berkali-kali. Naifnya, mereka yang menjabat dan mesti bertanggung jawab justru mendapat penghargaan ini itu, bahkan digaji dan diberi fasilitas mewah di tengah rakyat yang perutnya selalu lapar dan kerap ditipu oleh para mafia durjana.  

Konon publik sudah menitipkan harapan sekaligus kritik pada DPR agar lebih giat dalam menindaklanjuti aspirasi rakyat. Namun apa jadinya bila DPR hanya berdiam diri. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang "mencela" rakyat dengan berbagai macam narasi dan gimik tak bermutu. Rakyat sudah sampai pada titik nadir: tidak ada elite yang layak dipercaya. Rakyat pun bersuara dengan caranya sendiri: demonstrasi di jalanan, tepatnya depan Gedung Senayan dan di beberapa titik. Dengan harapan wakilnya tidak tuli, tapi lebih peduli. 

Namun apa daya, rakyat yang menyuarakan haknya tak didengar dan tak dipedulikan. Konon pengusaha sekaligus mafia yang berbeda pandangan dengan rakyat yang berkali-kali menyatakan pendapat justru tak ambil pusing. Konon, para politisi yang mereka biayai saat kampanye pemilihan legislatif disuruh diam dan tidak tunduk pada aspirasi rakyat, termasuk yang diwakili oleh berbagai elemen buruh dan mahasiswa. Para politisi pun tak bisa bergerak alias lebih memilih jadi patung mati. Lebih nerimo didemo rakyat yang diwakilinya daripada putus hubungan dengan si tuan atau pengusaha yang dipujanya selama ini. 

Meninggalnya Affan Kurniawan, seorang Driver Ojek Online saat aksi pada Kamis (28/8/2025) malam adalah alarm paling nyata dan kencang tentang banyak hal, terutama kepemimpinan Prabowo Subianto dan kepedulian DPR pada rakyat. Rakyat Indonesia menitipkan harapan pada Presiden Prabowo Subianto agar lebih tegas, prihatin dan menindaklanjuti suara nurani rakyat. Jangan pernah takut untuk bersikap tegas kepada para pengusaha nakal, mafia bringas dan para penjilat yang bermuka ganda. Termasuk mesti berani menghukum aparat penegak hukum yang bermain-main dengan hukum. Tak ada toleransi!  

Praktik korupsi, ketidakadilan dan tindakan amoral juga tingkah acuh semacam itu sangat melukai hati rakyat dan memantik siapapun untuk bersuara lantang hingga bertindak dengan caranya sendiri. Di samping beberapa kondisi bangsa yang belum juga dibenahi dengan baik seperti minimnya lapangan kerja, naiknya angka pengangguran dan penyalahgunaan narkoba juga pemborosan anggaran. Hal ini bisa menimbulkan perlawanan dan gejolak rakyat yang semakin meluas bahkan dapat memicu stabilitas nasional terganggu secara massal. 

Karena itu, saya berharap kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memperhatikan dan segera menindaklanjuti beberapa hal sebagai berikut: (1) pastikan seluruh fraksi partai politik koalisi merah - putih di DPR agar mendukung dan segera mengesahkan RUU Perampasan Aset menjadi UU. (2) segera mengganti menteri yang gagal menjalankan tugas dan fungsi dengan baik. (3) lakukan penghematan anggaran dengan menghilangkan jabatan ganda di kabinet merah - putih. (4) penjarakan dan miskinkan pejabat mana pun yang terlibat korupsi. (5) pastikan berbagai BUMN dipimpin oleh anak bangsa yang kompeten,  berintegritas dan bekerja keras juga profesional. (6) perkuat sektor penegakan hukum dengan menegakkan hukum dan hukum setegas-tegasnya. 

Apa yang saya sampaikan ini adalah elaborasi ulang atas isi kampanye Pak Prabowo Subianto pada pilpres 2014, 2019 dan 2024 lalu. Saya hanya mengingatkan berbagai paradoks Indonesia seperti yang disinggung juga dalam buku karya Presiden Prabowo Subianto yang berjudul "Paradoks Indonesia" yang terbit pada tahun 2017 lalu. Kini berbagai paradoks itu ada di meja dan depan mata Pak Prabowo Subianto sebagai Presiden. Kini saatnya untuk membuktikan kepada seluruh rakyat Indonesia bahkan dunia bahwa sosok negarawan itu masih ada dan mampu memimpin. Bukan asal bicara atau omon-omon. Optimis bisa! (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penikmat Jagung dan Ubi Bakar Di Cikini, Jakarta 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an