TGH. Safwan Hakim: Jadilah Seperti Air Putih!
Pada kesempatan itu saya diundang juga untuk mengisi beberapa kegiatan di pondok seperti bedah buku dan pelatihan menulis yang dihadiri para santri putra dan putri. Baik yang diadakan di Masjid Firdaus maupun di Masjid al-Walidaen.
Beberapa kesempatan saya manfaatkan untuk berkeliling di seluruh asrama dan sekolah, terutama di kompleks putra, baik umum dan MQNH maupun SMK dan PPKh KMMI Putra. Hal ini saya lakukan untuk mengenang kembali masa lalu saat saya nyantri di Nurul Hakim.
Pada beberapa tempat, terutama di gerbang masuk dan beberapa tembok, saya menemukan ungkapan bijak atau kalimat motivasi yang benar-benar membuat saya kembali kepada suasana masa lalu. Saya teringat dengan nasehat dan kalimat bijak para Ustadz ketika saya masih di kelas MTs dan Aliyah.
Ada banyak ungkapan bijak dan kalimat motivasi yang saya peroleh, seperti yang saya baca juga di pintu masuk dan beberapa tembok kala itu. Bagi saya, ini merupakan gambaran betapa Nurul Hakim adalah pondok yang memiliki cita-cita dan impian besar kepada para santrinya.
Belakangan, setelah mengikuti berbagai akun media sosial alumni, termasuk grup facebook, saya menemukan nasehat sekaligus pesan panjang yang disampaikan oleh TGH. Safwan Hakim. Judulnya, “Jadilah Seperti Air Putih!”.
Ketika pertama kali membacanya, saya sudah tertegun. Bagi saya, ini adalah nasehat sekaligus pesan yang sangat penting. Bukan saja bagi para santri yang sedang nyantri di Nurul Hakim, tapi juga bagi para alumni.
**
Berikut saya kutipkan pada tulisan ini:
Jadilah seperti Air Putih!
Jadilah seperti air putih. Tidak mewah tapi berarti.
Air putih tidak pernah berharap disebut mewah. Ia apa adanya. Tapi kehadirannya selalu dinanti untuk memberikan kesejukan.
Jadilah seperti air putih yang mampu menghidupi semua yang dilalui.
Jadilah seperti air putih yang memiliki prinsip dalam hidup.
Jadilah seperti air putih yang tidak angkuh, tidak juga sombong dan tidak dengki namun mampu berbaur serta mewarnai hidup.
Jadilah seperti air putih yang kehadirannya selalu dinanti dan ketiadaan selalu ditangisi.
**
Beliau mengingatkan agar para santrinya, yaitu kita semua, jadi seperti air. Baik saat menjadi santri di pondok maupun kelak ketika terjun atau hidup di tengah masyarakat.
Saya menangkap ada beberapa pesan dari ungkapan beliau. Pertama, jalani kehidupan ini seperti air. Air terlihat sederhana tapi punya manfaat bagi semua. Air tak melihat apa latar belakang dari siapapun, ia hanya fokus untuk bermanfaat bagi semua.
Kita tidak pernah melihat air pilih-pilih saat memberi manfaat. Air mengalir begitu saja, memberi kehidupan bagi siapapun dan apapun yang ia lewati. Manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan merasa nyaman dengan air dan merasa lebih hidup karena air. Bukan kah sebagian besar kebutuhan manusia, hewan dan tumbu-tumbuhan adalah air putih?
Begitulah semestinya kita dalam hidup ini. Kita harus memberi kenyamanan dan kehidupan bermakna bagi sesama. Kita tidak boleh zalim kepada hewan dan tidak merusak alam juga lingkungan sekitar. Bahkan kita harus memberi rasa aman dan nyaman bagi siapapun di sekitar kita. Lisan dan sikap kita harus mencerminkan air putih.
Kedua, jadilah pembelajar, tidak angkuh, sombong dan riya’. Fokus belajar dan jadilah pembelajar sejati. Itu lebih utama dari segalanya. Giat dalam mencari ilmu akan berdampak pada kehidupan kita selanjutnya.
Jangan berharap dipandang dan jangan pernah berharap nama dikenal di mana-mana. Keterkenalan itu ujian yang bisa saja membuat kita jadi terjebak pada sombong, angkuh dan riya’.
Selain itu, jangan pula bergaya hidup mewah. Hiduplah apa adanya dan bagaimana seharusnya. Tidak mewah tapi punya arti, bermakna bagi kehidupan diri dan orang lain. Bukan kah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama? Lalu, bagaimana bisa bermanfaat bila terjebak pada sikap serakah pada apapun yang Allah titipkan pada kita?
Ketiga, jadilah penyejuk. Menjadi santri yang hidup di pondok artinya kesiapan diri untuk hidup bersama orang lain yang beragam latar belakang. Baik suku, ras dan budaya maupun warna kulit dan selera hidup. Pondok adalah miniatur masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Dalam lingkup yang lebih luas, masyarakat adalah medan yang lebih kompleks. Keragamannya bukan saja dari sisi latar sosial dan budaya tapi juga profesi dan pilihan politik. Bahkan juga pandangan sekaligus praktik amaliyah ibadahnya.
Di sinilah perlunya menjadi sosok penyejuk. Bukan justru menjadi pemantik sekaligus pemicu konflik di tengah masyarakat. Tempat untuk melatih sikap dan mental semacam itu adalah pondok. Para santri diharapkan untuk terbiasa dewasa melihat perbedaan dan mengedepankan klarifikasi bila ada hal-hal yang perlu dikoreksi.
Keempat, memiliki dan menjaga prinsip hidup. Menjadi santri artinya menjadi sosok yang memiliki prinsip hidup, termasuk prinsip belajar. Di pondok, para Ustadz dan Ustadzah adalah orangtua. Ketaatan pada mereka merupakan wujud ketaatan kepada orangtua kandung. Mendengar nasehat, mengikuti bimbingan dan taat pada arahan mereka adalah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar. Bahkan pada level tertentu, ridho mereka adalah kunci kesuksesan kita.
Kehidupan di pondok sekaligus kesediaan menjadi santri artinya kesediaan untuk mentaati semua aturan pondok. Di samping belajar menjadi sosok yang mandiri, ikhlas, jujur, dan tanggungjawab serta menjaga persaudaraan antar sesama. Ingat, saling tolong menolong dan membantu di pondok merupakan prinsip sekaligus standar hidup yang harus dijaga.
Hal lain, di pondok, para santri harus menjaga diri dari makanan dan minuman yang halal atau subhat. Kita harus menjaga diri dari pelanggaran seperti mencuri uang, makanan dan minuman teman. Kita harus menjauhkan diri dari sandal, sepatu, sajadah yang bukan milik kita.
Bila pun kita hendak memakai milik teman kita, upayakan untuk meminta izin kepada pemiliknya. Kalau menemukan barang, uang atau makanan dan minuman, silahkan bertanya kepada teman sekitar. Jangan diambil untuk kepentingan diri kita.
Kelima, mampu menjadi teladan yang mewarnai. Kehidupan di pondok itu bagai taman surga. Di sinilah kita belajar menanam kebaikan dan melebarkan sayap kebaikan pada sesama. Dalam hal kebaikan, kita harus menjadi teladan.
Kita harus giat belajar, disiplin waktu dan sosok yang memberi warna bagi yang lain. Bila kita punya prestasi, kita upayakan untuk menularkan pada sesama. Kita berprestasi sejatinya karena mendapatkan dukungan dan topangan bahkan doa dari teman-teman kita yang lain.
Kelak ketika kita hidup di tengah masyarakat, kita pun harus menjadi teladan kebaikan. Kita harus mewarnai, bukan yang diwarnai. Kecuali kita diwarnai oleh kebaikan, maka kita layak mengikutinya. Kita boleh berbaur, namun tidak boleh melebur dalam kehidupan yang tak pantas.
Keenam, jadilah sosok yang spesial. Menjadi sosok santri yang spesial artinya kita harus memiliki keunggulan dalam banyak sisi. Dari segi ibadah, tradisi belajar dan praktik kehidupan di pondok, kita harus menjadi sosok yang membanggakan dan layak diikuti oleh teman-teman kita.
Kelak di masyarakat, kita juga harus menjadi sosok yang spesial. Menjadi sosok yang spesial tidak selalu diukur oleh harta dan jabatan kita, tapi dari akhlak, moral dan kepedulian kita pada sesama.
Intinya, jadilah santri yang dirindukan kehadirannya oleh teman-teman kita. Kelak ketika di masyarakat, kita mesti menjadi warga yang kehadiran kita selalu dinanti. Sehingga ketiadaan kita selalu ditunggu bahkan ditangisi. Tentu saja karena kita memiliki keunggulan dalam segala hal dan keanggunan dalam hal bersikap.
Saya berharap para santri dan alumni Nurul Hakim lebih sering membaca dan merenungi pesan di balik nasehat dan pesan TGH. Safwan Hakim itu. Bila memungkinkan, silahkan baca berulang kali, sehingga meresap dalam hati dan jiwa. Jadikan ia sebagai panduan agar kita tak salah langkah.
Ini bukan sekadar modal dalam meniti kehidupan di pondok, tapi juga bekal untuk kehidupan kita saat hadir di tengah masyarakat. Dampaknya, bukan saja untuk kehidupan di dunia yang hanya sebentar tapi juga di akhirat kelak yang kekal nan abadi. (*)
* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku “Ke Nurul Hakim, Apa yang Kau Cari?”
Komentar
Posting Komentar