Pesan Penting Di Balik Meninggalnya Mariam Fadila
Beberapa akun media sosial mempublikasi video rekaman dan foto pasca kecelakaan terjadi. Beberapa keluarga di kampung dan diaspora Manggarai Barat di Mataram dan sekitarnya menyebar hal yang sama. Bahkan akun facebook istri saya pun mendapat tag kabar juga video dan foto almarhumah setelah kejadian. Saya bingung dan penasaran, siapa gerangan yang meninggal dan apa sebab musababnya. Dan berbagai pertanyaan layaknya seorang yang memang tak paham apa-apa.
Saya pun menghubungi beberapa orang untuk mendapatkan informasi yang lebih valid. Saya pun menghubungi beberapa diaspora Manggarai Barat khususnya keluarga besar Cereng di Mataram. Tak lama kemudian saya dihubungi oleh kakak ipar saya di kampung, di Laba, Desa Golo Ndaring, Sano Nggoang, nmanya Kakak Ahmad Harson. Dari beliau saya mendapatkan informasi yang lebih valid bahwa yang meninggal adalah Mariam Fadila (berkerudung warna pink), anak ke-3 dari pasangan suami-istri: Kakak Jusma Karya dan Siti Aminah, keluarga saya di kampung. Ia meninggal pada Jumat 29 Agustus 2025 di Lombok Timur, NTB.
Dila, demikian akrab disapa oleh keluarga besar dan teman-temannya, merupakan anak ke-3 dari enam bersaudara. Mereka adalah (1) Sia Marifa, (2) Siti Jehora, (3) Mariam Fadila, (4) Nadia Amatulah, (5) Ahmad Kabul Budiyono dan (6) Kamil Nufail Zhafran. Sosok yang lahir pada 21 April 2006 lalu ini merupakan mahasiswi aktif semester 3 di jurusan Ekonomi Syariah di IAI Hamzanwadi Lombok Timur, NTB. Ia tergolong masih mahasiswi baru dan benar-benar masih dalam kondisi giat-giatnya mencari ilmu di tanah rantauan.
Sebagai manusia, tak ada yang bahagia ketika anggota keluarganya meninggal dunia. Apalagi seorang bapak dan ibu, atau saudara kandung dari yang meninggal. Semua pasti merasa sedih dan mengalami duka yang mendalam. Itu sangat wajar, sebab manusia memiliki sifat dasar yang sama: sedih. Meninggalnya Dila, bagaimana pun kejadiannya, adalah sebuah peristiwa bersejarah. Bukan saja bagi Dila tapi juga bagi keluarga besar juga siapapun kita. Yaitu tentang ajal kematian.
Karena itu, ada baiknya kita memahami, menyadari dan memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, kita semua bakal mati. Kita adalah mahkluk ciptaan Allah yang pasti bakal menemui ajal kematian. Apapun jenis kelamin, warna kulit dan profesi atau pekerjaan kita, suatu saat pasti menghadapi kematian. Jika maut telah mengintai kita, maka tidak ada satupun dari kita yang mampu menunda kematian kita. Allah berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kami-lah kamu kembalikan." (QS. al-Anbiya’: 31)
Kedua, mari siapkan bekal terbaik. Dunia adalah medan menanam benih amal kebaikan, hasilnya akan kita nikmati nanti di akhirat sana. Bekal terbaik adalah iman dan taqwa yang diwujudkan atau dibuktikan dengan amal ibadah, minimal ibadah wajib. Coba cek shalat lima kita, apakah kita meninggalkan atau menjalankan? Apakah kita melaksanakan shaum wajib di bulan ramadhan? Dan apakah kita giat membayar zakat fitrah pada waktu yang ditentukan? Bagaimana pula shalat sunah yang kita lakukan?
Iman dan taqwa juga akan mewujud dalam bentuk kebaikan yang bersifat duniawi seperti menolong dan membantu sesama, serta menjauhkan diri dari berbagai penyakit seperti iri, dengki, sombong, angkuh dan riya'. Di samping itu, terjaga akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu ada baiknya kita jadikan momentum meninggalnya Dila ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri kita sendiri. Saatnya menjalankan sholat lima waktu, berpuasa wajib pada bulan ramadhan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit yang disebutkan di atas.
Secara praktis, kita dapati tak sedikit orang yang begitu semangat memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak: baju, celana, sarung dan serupanya. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian taqwa yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian taqwa itulah yang lebih baik.
Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian taqwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian taqwa itulah yang lebih penting. Allah berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. al-A’raf: 26). Lalu dalam surat lain, Allah berfirman, "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197). Taqwa bukan baju fisik, tapi baju batin yang dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah.
Ketiga, mencari ilmu adalah kewajiban dan pencari ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Selain itu, pencari ilmu mendapatkan doa kebaikan dari semua makhluk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga kembali.” (HR. Tirmidzi). Dila meninggal dalam kondisi sedang mencari ilmu atau menempuh pendidikan tinggi, yaitu mendalami Ekonomi Syariah, sebuah cabang ilmu yang sangat penting dalam perkembangan ilmu keislaman.
Meninggalnya Dila mestinya semakin menyadarkan kita bahwa kematian adalah kepastian yang harus kita persiapkan dengan memperbanyak amal saleh dan menjaga hubungan baik dengan Allah, termasuk dengan banyak belajar. Ini adalah momentum bagi kita untuk membenah diri agar kita tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu berusaha untuk mengakhiri hidup dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik). Jangan sampai kita sedih pada kematian saat ini, tapi kita tak sedih pada kematian jiwa dan hati kita dengan meninggalkan kewajiban. Kita doakan semoga Dila dan kita semua menggapai derajat akhir yang baik, sehingga kelak mendapat jatah surga terbaik di sisi Allah! (*)
* Oleh: Syamsudin Kadir
Komentar
Posting Komentar