Inuk Dila dan Bekal Kematian Kita


Sahabat yang baik, ajal kematian itu adalah rahasia Allah. Kita tak tahu kapan kepastian datangnya. Tapi dia benar-benar pasti datang. Tua dan muda, lelaki dan perempuan, serta besar dan kecil, tak menjadi alasan baginya untuk enggan datang. Bila ia mau maka ia benar-benar menemui kita. Apapun kondisinya. 

Itulah pesan sederhana yang dapat kita ambil dari meninggalnya Mariam Fadila atau Inuk Dila pada Jumat 29 Agustus 2025 lalu. Dila meninggal setelah mengalami kecelakaan di jalan raya di Lombok Timur, NTB. Anak ke-3 dari 6 bersaudara dan asli Cereng, Manggarai Barat, NTT ini meninggal sebagai mahasiswi. 

Ia merupakan mahasiswi semester 3 Jurusan Ekonomi Syariah di Institut Agama Islam Hamzanwadi, Lombok Timur. Sebagai pencari ilmu, ia tentu diliputi oleh berbagai keberkahan dari Allah. Kini ia meninggal sebagai perantau sekaligus pencari ilmu. Kini ia bahagia karena  meninggal dunia dalam kondisi mencari ilmu.

Betapa banyak orang yang turut berduka sekaligus sedih atas apa yang menimpa Dila. Ucapan bela sungkawa dan doa untuk Dila muncul di berbagai tempat dan akun media sosial. Mereka menyampaikan secara tulus dan bukti bahwa Dila punya tempat di hati banyak orang: keluarga, sahabat dan siapapun. 

Sebagai keluarga dan sahabat, kita boleh sedih. Itu sangat manusiawi. Namun, kita harus lebih sedih ketika kita belum segera berbenah dan memperbaiki diri. Kita harus menyadari bahwa kita pasti mati. Karena itu, sudah saatnya menjalankan kewajiban kita, terutama shalat lima waktu dan yang lainnya. 

Kita mesti bersedih ketika ibadah shalat kita masih asal-asalan bahkan meremehkan hingga meninggalkannya. Padahal shalat lima waktu adalah kewajiban utama dan pembeda antar kita dengan siapapun. Bila kematian itu peristiwa besar, maka shalat adalah bekalnya. Ia adalah wujud iman dan taqwa kepada Allah.   

Ingat, jangan pernah meremehkan shalat lima waktu. Itu adalah modal sekaligus kunci kebahagiaan hidup. Sekaya apapun kita, hidup kita hanya bakal mendapat keberkahan bila menjalankan shalat lima waktu. Kehidupan kita tak bakal nyaman karena meninggalkan shalat lima waktu. Itulah kunci kebahagiaan hidup. 

Hal lain, coba cek kembali penyakit dalam diri kita. Apakah kita masih iri, dengki, angkuh, sombong dan riya' diri? Kalau masih ada, saatnya kita banyak beristighfar kepada Allah. Bisa jadi dosa kita masih banyak. Bila Dila meninggal mendadak, kita bisa meninggal mendadak. Mari siapkan bekal terbaik! (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an