Presiden, Luruskan Negara!
Namun, luka eksternal itu hanyalah separuh kenyataan. Di dalam negeri, arah bangsa kian melenceng dari kepatutan. Salah urus berulang, dilembagakan oleh aparat yang tidak hanya tak kompeten tetapi juga culas. Prabowo tampak menaruh niat tulus untuk membangun negeri, tetapi niat itu sering tersangkut dalam kelemahan tata kelola. Suara dan pilihan, visi dan implementasi, kerap berselisih, sehingga kebijakan yang lahir dari niat baik kehilangan konsistensi dan arah.
Lingkaran sekeliling presiden dipenuhi penggembira dan pemanfaat oportunis, yang hadir bukan untuk memperkuat tetapi menumpang. Mereka tidak memiliki kapasitas teknokratis untuk menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan nyata. Maka negara ini tersudut di antara dua bahaya: risiko penunggangan dari luar dan kehancuran manajemen dari dalam.
Dalam pusaran pelik itu, keberanian menjadi satu-satunya jalan keluar. Prabowo harus menapak jalan lurus, menyingkirkan penghambat, mengganti pengikut yang lemah dengan mereka yang mampu. Seorang presiden yang terus terkungkung dalam lingkaran kecil yang mengerdilkannya, bukan hanya gagal menuntun bangsa; ia akan dihancurkan oleh lingkaran itu sendiri.
Negeri ini membutuhkan lebih dari niat tulus. Ia membutuhkan arah yang jelas, kepemimpinan yang mampu menembus kebobrokan birokrasi, dan keberanian menghadapi risiko. Kami menunggu langkah nyata, keberanian yang mampu mengembalikan Indonesia ke jalan yang lurus—bukan jalan mudah, bukan jalan nyaman, tetapi jalan yang benar.
* Oleh: Yudi Latif
Komentar
Posting Komentar