Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Menjelang Pulang

Gambar
MARI kita duduk sejenak, menatap diri dalam diam yang paling jujur, dari apakah kita bermula? Kita bukan cahaya, kita hanya tanah yang hina dan setetes air yang terpancar tanpa daya. Allah berfirman, "Wahai manusia, jika kamu meragukan hari kebangkitan, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani" (QS. Al-Hajj: 5). Dari yang nista itulah Allah memahat kita, memberi mata untuk melihat dan hati untuk mencinta. Lantas dengan alasan apa kita masih berjalan dengan sombong di atas bumi-Nya yang lembut ini? Jika awal kita saja hanyalah titipan, maka seluruh diri kita pun sesungguhnya adalah amanah. Mata yang kita pakai memandang senja, telinga yang kita pakai mendengar doa, dan hati yang kita pakai merindukan pulang, semua hanya dipinjamkan. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya" (QS. al-Ahzab: 72). Gunung yang kokoh pun menolak, langit yang luas pu...

Pemilu 2029, Kompetisi Uang dan Integritas?

Gambar
PEMILU 2029 masih tiga tahun kurang, tapi hawa panasnya sudah terasa di ubun-ubun. Pernyataan politisi tentang pergantian kekuasaan mulai beterbangan di udara. Isu-isu strategis dilempar ke media seperti kembang api yang meledak sebelum waktunya. Regenerasi kepemimpinan dibisikkan, padahal luka Pemilu 2024 belum kering benar. Dan kita kembali pada pertanyaan purba: siapa yang layak memimpin Indonesia ke depan? Uang versus Integritas  Faktanya, pemilu di Indonesia selalu terbingkai dalam dua kutub yang bertarung. Di satu sisi ada perang uang, di sisi lain ada perang integritas. Politik uang tumbuh dari semangat berkuasa tanpa misi, tanpa cinta pada rakyat. Ia mengukur demokrasi dengan kalkulator finansial, membeli suara, membayar penyelenggara. Integritas sebaliknya tumbuh dari orientasi kenegaraan, terbangun oleh gagasan, dan berkuasa untuk kemakmuran bersama. Politik uang bukanlah sekadar amplop yang diselipkan di pintu. Ia adalah sistem yang meracuni nalar, membuat pemilih menjad...

Jaga Lisan-Tangan, Jaga Circle!

Gambar
Nongkrong bareng temen paling enak kalau adem. Nggak ada yang saling nyindir, nggak ada yang berantem. Nah Islam udah ngajarin caranya dari dulu. Ada hadits pendek tapi nampol banget.    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ   Kurang lebih begini artinya, "Seorang muslim itu yang bikin muslim lain selamat. Selamat dari gangguan lisan dan juga tangan." (HR. Bukhari). Ini haditsnya shahih, jadi bisa dipegang. "Selamat dari lisan" maksudnya gimana sih? Ya jangan suka ngegibah pas tongkrongan. Jangan suka ngeledek fisik, nama ortu, atau aib orang. Jangan nyebar hoax di grup WA cuma buat lucu-lucuan. Komen pedas di IG juga termasuk lisan lho. Sekali ngetik bisa bikin orang kepikiran sepekan. Padahal kita cuma "iseng doang". Tapi di Islam, iseng yang nyakitin tetap dihitung. Terus "selamat dari tangan" itu apa? Bukan cuma mukul doang. Nggak jahil ngumpetin helm temen juga masuk. Nggak ngerusak barang, nggak nyoret tembok. Nggak...