Menjelang Pulang
MARI kita duduk sejenak, menatap diri dalam diam yang paling jujur, dari apakah kita bermula? Kita bukan cahaya, kita hanya tanah yang hina dan setetes air yang terpancar tanpa daya. Allah berfirman, "Wahai manusia, jika kamu meragukan hari kebangkitan, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani" (QS. Al-Hajj: 5). Dari yang nista itulah Allah memahat kita, memberi mata untuk melihat dan hati untuk mencinta. Lantas dengan alasan apa kita masih berjalan dengan sombong di atas bumi-Nya yang lembut ini? Jika awal kita saja hanyalah titipan, maka seluruh diri kita pun sesungguhnya adalah amanah. Mata yang kita pakai memandang senja, telinga yang kita pakai mendengar doa, dan hati yang kita pakai merindukan pulang, semua hanya dipinjamkan. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya" (QS. al-Ahzab: 72). Gunung yang kokoh pun menolak, langit yang luas pu...