Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Hijrah Di Awal Tahun 1444 Hijriyah

Gambar
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah dan senang sekali rasanya sebab saya bisa menghadiri undangan Pengajian Bulanan dengan narasumber Ustadz Dr. KH. Rahmat Najieb (Anggota Dewan Hisbah PP. Persis sekaligus penulis Buku "Shalat Sebagaimana Petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam) hari ini Ahad 31 Juli 2022 di Masjid al-Falah, Kedawung, Cirebon-Jawa Barat. Pada awalnya saya enggan hadir karena masih kurang sehat, namun saya memaksakan diri untuk hadir. Dan alhamdulillah saya mendapatkan banyak hal yang bermanfaat, insyaa Allah.  Ketika dulu kuliah dan hidup di Bandung 2002-2008, saya sering menghadiri pengajian beliau di beberapa tempat dan momentum. Pembawaannya yang kalem namun bahasannya bergizi. Begitu juga majalah Risalah yang aktif memuat tulisan beliau, termasuk majalah yang aktif saya baca. Sangat layak dijadikan rujukan bagi siapapun untuk penguatan pemahaman keagamaan di era modern ini. Bukan saja karena keluasan dan kedalaman ilmunya tapi juga k

Selamat Datang Buku "Merawat Indonesia"!

Gambar
DI TENGAH aktivitas yang cukup padat, saya menyempatkan untuk membaca dan merapihkan tulisan saya khususnya artikel dalam beragam tema yang pernah dimuat di berbagai surat kabar dan media online selama beberapa waktu terakhir. Awalnya berat, namun dengan sedikit "memaksakan" diri, saya akhirnya berhasil menuntaskan agenda ini.  Menulis buku secara mandiri tentu belum cukup. Diperlukan keberanian dan kelapangan hati untuk mematangkan ide kepenulisannya dengan tulisan tokoh yang berpengalaman. Untuk itulah, beberapa waktu yang lalu saya meminta restu Pak Abdul Halim Falatehan, salah satu tokoh di Cirebon-Jawa Barat, agar tulisannya yang pernah dimuat di surat kabar selama ini disatukan dengan tulisan saya, ya dibukukan.  Seperti yang sudah biasa saya lakukan selama ini, bila naskah sudah disatukan, saya memilih untuk memilah dan membaca seluruh tulisan, lalu menyusunnya secara lebih rapih berdasarkan tema sekaligus substansi pembahasan masing-masing tulisan. Setelah itu, khusus

Siapkan Modal, Mari Didik Anak-anak Kita!

Gambar
23 Juli di setiap tahunnya diperingati sebagai Anak Nasional. Momentum setiap orangtua untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan peranannya selama ini sebagai orangtua. Memiliki anak merupakan harapan hampir semua pasangan suami-istri. Ia merupakan salah satu pangkal kebahagiaan bagi pasangan ini dalam hidup berumah tangga. Dr. Wendi Zarman dalam bukunya "Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah itu Mudah dan Lebih Efektif" (2011) mengungkapkan, "Anak adalah tali pengikat pernikahan, karena dengan anak, suatu pernikahan diharapkan bisa lebih langgeng."  Sebagai dampak ikutannya, orangtua pun pasti berkaitan dengan tugas mulia yaitu mendidik anak. Mendidik anak adalah salah satu kewajiban sekaligus keniscayaan bagi orangtua atas anak-anaknya. Kemampuan orangtua dalam menjalankan apa yang juga bisa disebut sebagai tugas sekaligus fungsi utama ini akan memberi dampak yang sangat serius bagi anak-anak mereka kelak.  Dalam menjalankan misi mendidik, orangtua tentu tidak hanya

Komitmen Merawat Indonesia

Gambar
INDONESIA adalah sebuah negara besar yang memiliki potensi alam tak berbilang. Jumlah pulaunya banyak, daratan dan lautannya luas, serta kekayaan yang dikandungnya benar-benar tak terhitung. Jumlah penduduknya kini sekitar 270 juta jiwa, dengan warna kulit, ras, suku, budaya, adat istiadat dan profesi warganya yang beragam. Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas warga negara, sehingga menyebabkan Indonesia menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, yang diikuti oleh beberapa negara mayoritas muslim lainnya.   Negeri ini berpengalaman dijajah dalam rentan waktu yang cukup lama. Konon tiga abad lebih lamanya, walau sebagian mengatakan hanya beberapa tahun. Walau begitu, negeri ini tak kehilangan jejak dan visi masa depan. Berbagai nilai-nilai luhur yang menjadi pijakan warganya sejak lama masih terjaga dengan baik hingga kini. Beradab, sopan, santun, tolong menolong, gotong royong, menghargai sesama, dan menghormati perbedaan masih menjadi aksi hidup masyara

Sekali Lagi Tentang Mohammad Natsir

Gambar
AHAD 17 Juli 2022, salah satu tokoh bangsa sekaligus pahlawan nasional Indonesia genap berusia 114 tahun. Sosok yang lahir pada 17 Juli 1908 dan meninggal pada 6 Februari 1993 (pada usia 84 tahun lebih) silam ini terkenal dengan “Mosi Integral”-nya. Ya, mosi ini merupakan sebuah hasil keputusan parlemen mengenai bersatu kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan yang digagas oleh Pak Mohammad Natsir (Pak Natsir) yang kemudian kelak menjadi sebuah keputusan parlemen pada 3 April 1950. Setelah melalui perdebatan panjang di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) akhirnya Mosi ini diterima secara bulat. Bahkan Perdana Menteri Mohammad Hatta kala itu menegaskan akan menggunakan “Mosi Integral” sebagai pedoman dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan negara.  Berkaitan dengan hal itu, saya jadi terngiang kembali dengan sebuah acara penting pada Ahad 3 April 2022 lalu. Kala itu, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) mengadakan acara penting y

Menjadi Pendidik Di Era Digital

Gambar
PENDIDIKAN adalah hak dasar anak. Dengan demikian, mendidik adalah kewajiban para pendidik, baik orangtua maupun guru. Hal penting dalam pendidikan adalah mengenal huruf atau kata. Sederhananya, pendidikan yang paling mendasar adalah melek huruf atau kata. Karena dari situlah si anak dapat mengetahui dan memahami banyak hal seperti al-ulum al-dien (pengetahuan agama), berita, informasi, dan (terutama) pelajaran sekolahnya.  Namun, bagaimana jadinya jika anak (didik) tidak melek huruf atau sudah melek huruf namun kerap menggunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan moralitas? Apa jadinya anak (didik) jika pintar membaca namun kepintarannya digunakan untuk mengakses situs-situs atau media sosial yang penuh dengan gambar-gambar senonoh tanpa rasa malu?  Sudah menjadi maklum bahwa era ini adalah era dimana teknologi (internet) berkembang begitu masif dan bisa diakses dengan begitu mudah oleh hampir semua kalangan. Media sosial seperti google, misalnya, ia bisa diakses oleh siapapun.

Profil Pelajar Berjiwa Pancasila

Gambar
PROFIL Pelajar Pancasila yang dimaksud adalah yang sesuai visi dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Di sini disebutkan Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri tama: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.    Keenam ciri tersebut bisa dijabarkan lagi sebagai berikut, pertama, Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pem

Menjadi Orangtua Cerdas Di Era Digital

Gambar
SETIAP orangtua mengakui bahwa setiap anaknya adalah penting. Keragaman sikap dan tingkah pada anak kita mesti dipahami sebagai anugerah dari Allah. Tugas kita adalah membimbing dan mengarahkannya sehingga bermanfaat bagi perkembangan anak. Baik dalam aspek fisik, kognitif dan bahasa maupun dalam hal emosi, sosial dan cita-cita anak. Tugas membimbing anak merupakan amanah penting dan besar pengaruhnya bagi perkembangan anak dalam berbagai aspeknya.  Ya, menjadi menjadi orang tua cerdas di era digital seperti sekarang ini memang bukanlah perka­ra mudah. Apalagi dengan semakin maraknya penyebaran Handphone (HP) dan penggunaan media sosial (Medsos) di tengah-tengah masyarakat. Sebabnya tentu saja bera­gam, tidak tunggal. Dari konten yang terlalu bebas sehingga mem­buat anak-anak bisa menda­patkan sesuatu yang tidak sesuai dengan usianya, atau ada orang yang tidak bertanggung jawab dan bisa membahaya­kan anak, baik secara langs­ung atau tidak langsung. Bambang Soegiharto (dalam artikelnya

Inspirasi Pendidikan Persis dan DDII

Gambar
PADA Sabtu 23 April 2022 lalu menghadiri acara Tabligh Akbar di SDIT Al-Hikmah, Kota Cirebon-Jawa Barat. Acara yang dihadiri oleh keluarga besar SDIT Al-Hikmah ini merupakan bagian dari Semarak Ramadan 1443 H yang diadakan oleh lembaga pendidikan yang berada di Jl. Ahamd Yani, Kota Cirebon-Jawa Barat ini. Pada acara ini Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, DDII) didaulat menjadi narasumber tunggal dengan tema utama "Pendidikan Islam".  Menurut Doktor lulusan ISTAC Malaysia ini, mendirikan lembaga pendidikan mesti dengan niat berdakwah dan ditunaikan dengan ikhlas kepada Allah. Sebab ini kunci penting yang menjadi dasar dan menentukan arah pendidikan sekaligus perjuangan selanjutnya. Bila niatnya ikhlas maka Allah akan memberi kemudahan dan memberkahi. Namun bila tujuannya untuk kepentingan jabatan, materi dan hal duniawi lainnya maka proses pendidikan bakal berantakan atau bermasalah.  Menurut Dr. Adian, ormas Islam Persatuan Islam (Persis) memiliki

Spirit Literasi Ketua Umum Dewan Dakwah

Gambar
PADA Ahad 23 Januari 2022 lalu saya sempat menghadiri acara launching dan diskusi buku baru Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini (Dr. Adian) yang berjudul "Berbeda Berdialog Berjuang Bersama". Walau hanya bisa menyaksikan dari YouTube, saya merasa bergembira, sebab acara semacam ini sangat saya butuhkan dalam menguatkan dan menopang aktivitas saya di dunia literasi selama ini. Hal lain, saya gembira sebab apa-apa yang disampaikan oleh Dr. Adian pada acara yang dimulai sejak pukul 16.30 hingga 18.00 WIB ini sangat menginspirasi saya untuk terus belajar dalam banyak hal.  Walau saya baru bisa mengikuti acara ini sejak pukul 17.00 WIB hingga akhir, paling tidak saya mencatat beberapa poin penting yang disampaikan oleh alumni Doktoral (Ph.D) ISTAC-IIUM ini pada kesempatan kali ini. Pertama, menjaga ukhuwah islamiyah. Kita mesti berlapang dada dengan saudara kita yang berbeda latar belakang. Bila pun ada hal-hal yang perlu diluruskan, mesti disampi

Membaca Buku "Moderasi dan Toleransi Beragama"

Gambar
BEBERAPA tahun belakangan ini ada dua diksi yang menjadi tema bahkan program yang kerap ditebar oleh kelompok tertentu yaitu moderasi dan toleransi. Satu sisi tema ini penting untuk ditebar ke masyarakat luas agar masyarakat tidak bersikap berlebih-lebihan sekaligus menghormati perbedaan di tengah masyarakat yang memang beragam. Namun pada sisi yang lain ternyata pada perkembangan dan praktiknya mengandung subhat yang salah kaprah. Bahkan pada posisi tertentu malah menyelisihi inti pokok ajaran agama Islam yang selama ini sudah diyakini oleh umat Islam.  Secara sepintas yang terlihat adalah moderasi dan toleransi, padahal isinya dikotori oleh paham yang menepikan bahkan menyelisihi ajaran agama dalam hal ini Islam. Masyarakat pun dibuat bingung, mana moderasi dan toleransi lalu mana pluralisme agama dan kemusyrikan. Padahal agama terutama Islam memiliki konsep utuh: antar at tsawabit (baku) dan al mutaghayirot (fleksibel), antar keyakinan dan muamalah sosial. Dengan demikian, moderasi