Menjelang Pulang
Jika awal kita saja hanyalah titipan, maka seluruh diri kita pun sesungguhnya adalah amanah. Mata yang kita pakai memandang senja, telinga yang kita pakai mendengar doa, dan hati yang kita pakai merindukan pulang, semua hanya dipinjamkan. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya" (QS. al-Ahzab: 72). Gunung yang kokoh pun menolak, langit yang luas pun takut, namun kita yang lemah ini justru menerimanya. Beranikah kita mengkhianati pinjaman paling suci dari Tuhan kita sendiri.
Waktu dan umur yang sering kita keluhkan terlalu cepat itu pun adalah amanah yang paling senyap. Ia tidak berisik, ia hanya pergi perlahan dan tidak pernah kembali lagi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak akan bergeser kaki anak Adam pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan" (HR. Tirmidzi). Setiap detiknya adalah embun yang Allah titipkan untuk menumbuhkan kebaikan. Sudahkah kita gunakan waktu kita untuk tumbuh, atau justru kita biarkan ia layu tanpa makna.
Gelar yang melekat indah di ujung nama kita adalah amanah yang sunyi dan berat. Ia bukan mahkota untuk meninggi, melainkan beban agar kita semakin merunduk. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, betapa besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. ash-Shaff: 3). Dan Allah pun berfirman, "Janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu" (QS. al-Anfal: 27). Mari kita rawat gelar kita, bukan sebagai tangga untuk dipuji manusia, melainkan sebagai jalan untuk mengabdi kepada-Nya.
Harta yang kita genggam erat-erat di dalam dekapan pun adalah amanah yang sangat rapuh. Ia datang bukan sebagai milik abadi, melainkan sebagai titipan yang kelak akan berpindah tangan. Allah berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu" (QS. at-Taghabun: 15). Setiap lembarnya akan ditanya, dari mana datangnya dan untuk apa perginya. Mari kita menunduk dalam-dalam, jangan-jangan ada rezeki yang belum halal ikut kita suapkan untuk orang-orang yang kita cinta.
Keluarga, pasangan, dan anak-anak yang memanggil kita dengan lembut ayah dan ibu adalah amanah yang paling halus. Mereka bukan sekadar kebanggaan, mereka adalah cermin tentang bagaimana kita menjaga. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. at-Tahrim: 6). Anak yang kita peluk hari ini kelak akan bersaksi, apakah kita menuntunnya menuju surga atau membiarkannya berjalan menuju neraka. Sudahkah kita menjadi rumah yang aman bagi mereka untuk pulang dan berteduh?
Jabatan yang kita perebutkan dengan berdarah-darah itu juga amanah yang paling menakutkan. Ia terlihat seperti kemuliaan, padahal ia adalah jurang pertanggungjawaban yang sangat dalam. Allah berfirman, "Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" (QS. An-Nisa: 58). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbisik kepada Abu Dzar, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah, dan ia adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat" (HR. Muslim). Masihkah kita tega saling menyikut dan saling menyuap hanya untuk sebuah kursi yang fana dan akan lapuk?
Karena semua itu adalah titipan, maka semua itu pasti akan dimintai jawaban yang utuh. Tidak ada nikmat yang berlalu tanpa dicatat dan tanpa ditanya dengan teliti. Allah berfirman, "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan itu" (QS. at-Takatsur: 8). Dan Allah berfirman, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS. al-Isra: 36). Bayangkan, kita berdiri sendirian, telanjang, gemetar, tanpa seorang pun yang mampu membela kita di hadapan-Nya.
Lalu semua kisah panjang yang kita tulis dengan bangga itu akan berhenti pada satu muara yang sama, yaitu kematian. Sehebat apa pun langkah kita dan setinggi apa pun mimpi kita, ujungnya adalah liang yang sempit, sunyi, dan gelap. Allah berfirman, "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali Imran: 185). Tidak ada yang bisa berlari darinya dan tidak ada yang bisa menawar waktunya walau sedetik. Apa lagi yang akan kita banggakan dari dunia yang sudah pasti akan kita tinggalkan.
Kematian adalah tirai penutup bagi panggung dunia kita yang riuh dan berisik. Di sanalah pintu taubat tertutup rapat dan pintu amal terputus untuk selamanya. Harta kita tertinggal, gelar kita tertanggal, dan jabatan kita pun lenyap tak berbekas. Yang tinggal hanyalah amal kecil yang pernah kita ikhlaskan dalam sepi dan dalam tangis. Menangislah sekarang, sebelum kita menangis di alam kubur tanpa lagi memiliki air mata.
Akhirnya, mari kita belajar menjadi manusia yang cerdas dengan cara yang paling tulus. Cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, melainkan yang paling sering mengingat perpisahan dengannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian" (HR. Tirmidzi). Mari kita pulang bertaubat, sebelum kita dipulangkan oleh malaikat maut dengan lembut namun pasti. (*)
* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku "Ketika Allah Memilihmu"

Komentar
Posting Komentar