Shaum Sebagai Perisai Diri
Pada Sabtu 21 Februari 2026 malam, kuliah tujuh menit atau kultum sebagai rangkaian tarawih di Masjid Maslicha, Talun, Cirebon, Jawa Barat, disampaikan oleh Bapak Sukisna, S.Pd. dengan materi berjudul “Shaum Sebagai Perisai Diri Dari Dosa”. Di hadapan ratusan jamaah yang berasal dari warga kompleks Perumnas Bumi Arumsari ini, penceramah mengingatkan jamaah dan kita semua seputar ibadah shaum, termasuk manfaatnya.
Pesan Penting
Saya mencatat beberapa poin penting yang disampaikan oleh penceramah selama kurang lebih 7 menit ini. Pertama, shaum adalah panggilan spesial dari Allah untuk orang beriman. Shaum Ramadan merupakan bulan latihan yang akan menguji kita, sejauh mana manajemen diri kita dalam menjalankan ibadah shaum.
Kedua, shaum sebagai perisai atau benteng. Menurut penceramah, shaum bermakna menahan diri dari sesuatu. Shaum juga sebagai perisai, yaitu perisai atau benteng diri dari berbagai godaan dan hawa nafsu serta berbagai perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ketiga, shaum sebagai medium untuk melatih dan meningkatkan kesabaran. Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih diri kita, terutama dalam hal kesabaran kita. Di sinilah kita belajar bersabar terhadap berbagai hal, yang bukan saja haram tapi juga bahkan halal, namun kita dibatasi untuk menikmatinya.
Manfaat Shaum
Penceramah juga menyampaikan beberapa manfaat shaum, yang diharapkan memotivasi kita semua untuk menunaikan ibadah shaum kali ini dan di tahun mendatang dengan lebih khusyu’, sungguh-sungguh dan penuh khidmat.
Pertama, dapat menjadi perisai dari hawa nafsu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shaum adalah perisai. Maka apabila salah seorang diantara kalian ber-shaum, maka janganlah berkata kotor, dan jangan pula bertingkah laku jahil atau berteriak atau bertengkar. Jika ada orang lain yang mencaci atau menyerangmu, maka ucapkanlah sesungguhnya aku sedang shaum.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut penceramah, shaum sebagai perisai, bermakna, ia mesti mampu menahan hawa nafsu kita dari berbagai perbuatan dosa. Hadits tersebut menjadi penegas bahwa shaum bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga menghindarkan diri kita dari perbuatan dosa dan berbagai keburukan lainnya.
Kedua, shaum sebagai perisai dari api neraka. Shaum juga menjadi perisai yang menahan seseorang dari siksa api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shaum adalah perisai, yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i). Pada hadits lain, “Tiada seorang hamba pun yang shaum sehari dengan niat fi sabilillah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya 70 tahun perjalanan dari neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, shaum sebagai perisai dari konsumsi yang berlebihan. Menurut penceramah, salah satu tantangan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk saat shaum Ramadan, adalah menjadi orang yang konsumtif dan terjebak pada penyakit rakus pada duna. Karena itu, shaum mengajarkan kita pada kesederhanaan, merasa puas dan berkecukupan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dengan makan dan minum seperlunya, dari shaum kita dapat merasakan bagaimana rasa lapar seperti yang dialami oleh sebagian orang di luar sana. Karena itu, shaum Ramadan mestinya berdampak pada berbagai skala, baik individu maupun sosial dalam bentuk kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, shaum dapat membentuk masyarakat yang sabar dan santun. Masyarakat yang menjalankan shaum dengan benar akan berupaya untuk menghindarkan konflik dan fokus memperkuat tali persaudaraan dengan sesama. Kondisi demikian besar kemungkinan akan menciptakan lingkungan yang harmonis dan diliputi berbagai keberkahan dari Allah.
Keempat, shaum mengajarkan kita tentang keprihatinan dan kepedulian kepada mereka yang diuji dengan berbagai kekurangan. Karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, memberi makan atau minum bagi yang berbuka shaum, dan menolong fakir-miskin. Hal ini dapat mempererat hubungan sosial dan mengurangi kesenjangan dalam kehidupan masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Namun demikian, shaum dapat menjadi perisai manakala kita menjalaninya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan karena Allah serta pengamalan yang benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Insyaa Allah Ramadan kali ini menjadi momentum bagi kita untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Mari jadikan shaum sebagai kewajiban rutin sekaligus perisai yang akan membimbing kita menuju lapisan ketakwaan yang lebih tinggi. (*)
* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku "Pendidikan Ramadan"
.jpg)
Komentar
Posting Komentar