Selamat Jalan Sahabatku Mas Afif Rivai!


SAYA baru saja menuntaskan aktivitas sore membaca al-Qur’an bersama keluarga kecil saya, menjelang azan magrib tiba. Sesaat setelah itu, saya menengok facebook beberapa wartawan senior dan kolega saya. Salah satu yang saya tengok adalah akun Facebook Mas Raswidi Hendra Suwarsa, akrab saya sapa Kang Raswidi. Ia merupakan salah satu penggawa di Radar Cirebon Grup, yang belakangan aktif sebagai pembaca acara Talkshow “Ngopi Dingin” di Radar Cirebon Televisi (RCTV) setiap pukul 08.00 WIB. 

Pada akun facebook-nya per-Kamis 5 Februari 2026 pukul 18.21 WIB, Kang Raswidi men-share informasi perihal meninggalnya salah satu sahabat dekat saya, Mas Afif Rivai. Karena waktu magrib cukup mepet, saya dan keluarga kecil saya langsung menunaikan shalat magrib. Setelah itu, saya langsung menghubungi keluarga Mas Afif, tepatnya adik kandung Mas Afif.  Pada Jumat (23/1/2026) dan Rabu (4/2/2026), adiknya juga mengirim kabar dan berkomunikasi dengan saya tentang Mas Afif yang lagi sakit. 

Berdasarkan kabar dari keluarganya pada Kamis (6/2/2026) pukul 18.40 WIB, Mas Afif meninggal pada Kamis 5 Februari 2026 pukul 16.00 WIB di RSUD Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Mas Afif meninggalkan seorang putra bernama Mizan Tashef Ghifari el-Maghribi. Mizan, demikian ia akrab disapa, lahir pada Rabu 25 Juli 2018 lalu. Hal ini terungkap dalam buku karya Mas Afif yang saya edit dan terbitkan pada Juni 2021, berjudul “Mencintai Tanpa Titik; Kado Syukuran Tujuh Tahun Pernikahan”.  Buku yang ia hadiahkan ke banyak tokoh ini naik cetak kedua pada April 2023. 

Mas Afif adalah salah satu orang pertama dari beberapa orang yang saya kenal pertama saat pindah dari Bandung ke Kota Cirebon pada 7 Oktober 2010 silam. Sebagai aktivis jebolan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di IAIN Cirebon—kini UIN Siber—Syeikh Nurjati Cirebon, Mas Afif aktif menjadi narasumber kegiatan mahasiswa dan giat menulis di berbagai media massa terutama surat kabar seperti Radar Cirebon, Rakyat Cirebon, Kabar Cirebon dan Fajar Cirebon. 

Seingat saya, Kolom Wacana Radar Cirebon, sebuah surat kabar yang terkoneksi dengan Jawa Pos Grup ini, menjadi halaman paling aktif dimana saya dengannya kerap bersahut pandangan perihal berbagai isu lokal dan nasional, termasuk isu sosial keagamaan. Kadang saya dan Mas Afif berbeda pendapat tentang isu tertentu, namun kerap bersepakat untuk isu lain. Kami berbeda pendapat, namun masih sering berkumpul bersama di beberapa warung kopi dan warung nasi di Jl. Perjuangan, termasuk kafe dan warung nasi di kompleks Kantor Radar Cirebon Grup. 

Sejak 2010, saya aktif membaca tulisannya di beberapa surat kabar, termasuk di Radar Cirebon. Saya pun turut tersemangati oleh giatnya untuk menulis di surat kabar yang sama. Setelah itu, saya pun ikut menulis dan rerata dimuat oleh Radar Cirebon dan surat kabar lainnya. Pada 29 Maret 2013, buku saya yang berjudul “NGOPI; Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia” yang baru saja terbit dibedah oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) IAIN Cirebon dan KAMMI Daerah Cirebon. Saat itu dihadiri oleh aktivis BEM, KAMMI, HMI, PMII dan organsiasi intra dan ekstra kampus lainnya. 

Kegiatan yang berlangsung di sekitaran kompleks Stadion Bima itu dihadiri oleh Mas Afif Rivai sebagai pembanding atau pembedah. Kritik dan apresiasi Mas Afif untuk saya, tepatnya buku saya setebal 300-an halaman, pada forum yang dihadiri oleh sekitar 50-an peserta tersebut, menjadi pemantik sekaligus penyemangat bagi saya untuk terus belajar, bahkan kelak semakin jatuh cinta dengan tradisi baca-tulis. 

“Buku ini menjadi pendobrak stagnasi intelektual terutama kalangan muda untuk terus menerus menyampaikan pendapat sekaligus koreksi atas berbagai tindak tanduk elite di berbagai lembaga dan institusi, terutama partai politik dan birokrasi pemerintahan. Suara kencang penulis buku ini, sahabat saya Mas Syamsudin Kadir, adalah bukti bahwa kaum muda tak kehilangan momentum dan daya untuk memastikan arah bangsa tetap pada kiblatnya,” begitu ungkap Mas Afif pada sebuah catatannya setelah membaca tuntas buku yang disusun dari bunga rampai artikel saya yang pernah dimuat di Radar Cirebon tersebut. 

Kenangan dan Kesan 

Saya tentu memiliki kenangan indah dan berkesan bersama Mas Afif. Diantara yang saya ingat, pertama, gila ilmu. Hal ini saya buktikan pada saat saya bersua dengannya dalam banyak pertemuan, baik forum intelektual maupun forum santai di warung kopi. Ia selalu membawa buku baru yang dikenalkan ke saya. “Ini buku baru Mas. Saya baru baca. Isinya mencerahkan dan bikin kita kembali menyadari betapa kita masih butuh asupan rujukan,” ucapnya saat janjian makan bareng di sebuah warung nasi sebelah barat Masjid al-Jami’ah UIN Cirebon. 

Mas Afif pun sering memberi kabar kepada saya perihal pergelaran buku di Jakarta, Bandung dan Jogjakarta, termasuk di Cirebon. Ia juga sering memberi kabar buku yang ditulis oleh tokoh nasional, yang rerata sudah ia beli dan baca. Kadang ada buku yang sudah saya miliki dan baca duluan, kadang ada buku yang sudah ia miliki dan baca duluan. Sehingga virus gila ilmu ini menjadi virus yang hidup dalam aktivitas kami, kapan di mana pun.  

Kedua, gila baca-tulis. Mas Afif adalah sosok yang gila dua tradisi yang diwariskan oleh para ulama muslim lintas generasi ini. Selain aktif menulis di beberapa Koran di Cirebon seperti Radar Cirebon, Rakyat Cirebon, Kabar Cirebon dan Fajar Cirebon, Mas Afif juga menulis beberapa buku seperti “Bangga Bersama Sang Kiai”, “Mengabdi dan Memberi”, “Kang Hasan Sang Penceramah”, “Api Islam Nucholis Majid”, “Etika Politik (Catatan Kritis Berpolitiknya Parpol Di Indonesia)”, “Heviyana Sang Pelopor Pemberdayaan Perempuan” dan “Mencintai Tanpa Titik”. Lalu buku “Membaca Politik Dari Titik Nol”, merupakan bunga rampai artikel kami di berbagai surat kabar. Buku setebal 328 halaman ini terbit September 2020 dan cetak ulang pada Desember 2020. 

Tradisi baca-tulis yang kami giatkan, hingga melahirkan banyak buku, semakin meneguhkan semangat kami untuk melakukan penguatan literasi dalam banyak wajah seperti aktif menulis artikel, menulis dan membedah buku, serta berbagi file jurnal terbaru karya para senior di Jakarta, Bandung dan Jogjakarta. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kami saling mengajak untuk mengikuti berbagai audisi kepenulisan dan acara bedah buku. Tentu pasti diikuti dengan memburu buku, baik terbitan lama maupun baru. 

Ketiga, aktivis yang pandai bergaul dan inklusif. Mas Afif adalah sosok yang pandai bergaul. Selain tokoh lokal, ia juga berkenalan dengan tokoh nasional. Kabar baiknya, rerata tokoh yang ia kenal juga saya kenal. Karena itu pulal-lah ia menjadi sosok yang terbuka atau inklusif terhadap berbagai isu, wacana dan pemikiran. Dalam beberapa hal kami kerap berhadap-hadapan, bahkan agak kencang, namun tak merintangi kami untuk tetap berkabar dan saling menelpon setiap hari. Tradisi baca-tulis yang terjaga membuat sosok Mas Afif semakin peduli dan senang berkolaborasi dengan siapapun, termasuk saya.   

Keempat, peduli dan perhatian pada teman. Mas Afif termasuk yang selalu mengingatkan saya perihal menjaga makanan dan minuman. Kata dia, biasakan bawa makanan dan minuman dari rumah. Selain menjaga isi dompet dari makan yang melampaui batas, juga untuk menjaga diri dari menikmati makan dan minuman yang tak cocok bagi kesehatan diri. “Saya kadang bawa air dari rumah Mas. Saya juga mulai menghindari minuman yang bersoda, lebih baik perbanyak minum air putih,” ungkapnya berulang kali bila bersua sebelum dan sesudah acara Talkshow Selamat Pagi Cirebon (SPC) di Radar Cirebon Televisi (RCTV) yang ia pandu atau forum lain. 

Ya, Mas Afif adalah pembawa acara Talkshow SPC di RCTV. Pada acara yang berlangsung pukul 07.00-08.00 WIB itu, saya kerap diundang untuk mengulas berbagai isu aktual lokal dan nasional juga isu sosial kegamaan, baik sebagai narasumber tunggal maupun panelis bersama narasumber lain. Seingat saya, ada 50-an kali saya hadir di forum bergengsi itu. Rekamannya bisa diakses di Youtube dan elaborasinya saya biasa ulas ulang di Kolom Wacana Radar Cirebon yang kelak menjadi beberapa buku seperti “Membaca Politik dari Titik Nol” dan sebagainya.   

Setahun yang lalu, medio menjelang Pilkada 2024, saya sempat silaturahim ke rumah dan keluarganya di Arjawinangun, Cirebon. Kala itu, walau sudah sakit, tapi ia tetap menerima kehadiran saya dengan begitu akrab dan hangat. Walau sudah mulai kesusahan untuk berdiri dan berjalan, namun ia masih mau diajak bicara dan sesekali bercanda. Bahkan saat itu, saya mengamini keinginannya untuk kontak langsung melalui video call ke beberapa tokoh seperti Pak H. Anwar Yasin (Anggota DPRD Jawa Barat 2011-2024, Fraksi PKS) dan Mas Dani Mardani (Anggota DPRD Kota Cirebon 2004-2024, Faksi PAN). Rupanya ia sangat senang mendapat kesempatan untuk berbicara langsung beberapa menit dengan para seniornya di HMI itu. 

Setelah itu, saya belum sempat silaturahim lagi, karena berbagai kesibukan yang tak bisa ditinggal. Walau begitu, dalam banyak kesempatan, saya masih bisa berkomunikasi dengan adiknya, minimal bertanya tentang kabarnya. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, pada Jumat (23/1/2026) dan Rabu (4/2/2026), adiknya mengirim kabar kepada saya tentang Mas Afif yang lagi sakit. Saya ingin sekali silaturahim dan menjenguk, namun kondisi tak memungkinkan. Saya pun hanya bisa melantunkan doa yang terbaik untuknya, termasuk yang dikirim lewat pesan WhatsApp.  

Mas Afif benar-benar meninggal dunia. Ia meninggal tepat pada usia HMI, organisasi yang telah menempanya selama beberapa tahun, genap 79 tahun. Sehingga kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga besar insan cita. Namun tetap penuh kenangan dan kesan terbaik. Keluarga dan orang terdekat tentu merasa kehilangan, karena rasa cinta dan persahabatan yang terjalin lama dengannya. Ajal kematian memang ada pada kuasa Allah. Setiap yang bernyawa pasti meninggal. Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian …..” (QS. Ali ‘Imran: 185). Kita bakal seperti Mas Afif, kita hanya menunggu giliran sesuai jadwalnya masing-masing. Karena itu, mari persiapkan bekal terbaik! 

“Innalillahi wa inna ilaihi rroji’un. Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu anhu; Allahumma aamiin!”, itulah ungkapan mendadak dan doa yang saya panjatkan kepada Allah untuk sahabat baik saya Mas Afif Rivai. Karena sebaik-baik persahabatan adalah persahabatan yang diwarnai oleh saling mengingatkan pada kebaikan dan mendoakan untuk kebaikan. Saya mohon maaf karena belum mampu menjadi sahabat yang terbaik untukmu Mas Afif. Masih banyak kenangan dan kesan yang layak saya ungkap, namun yang terbaik adalah doa terbaik untuk Mas Afif. Mas Afif adalah orang baik. Dia saudara, kolega dan sahabat terbaik saya. Selamat jalan sahabatku Mas Afif Rivai! (*)


* Oleh: Syamsudin  Kadir, Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an