Bencana Media dan Solusi Alternatif Qur'ani


SALAH satu bencana besar yang menimpa bangsa dan negara kita di era media yang semakin menjamur ini adalah konten negatif. Konten negatif mencakup gambar dan video seronok, perjudian, penipuan, pelecehan, pencemaran nama baik, caci maki, cela mencela, penghinaan, permusuhan, berita bohong dan teror atau ancaman tindakan kriminal. Konten media terutama media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram, Twitter, Blog dan sebagainya makin mengkhawatirkan. Tak sedikit yang terlibat berbagai kasus hingga candu, bahkan nyaris tak menemukan solusi dari aspek medis. 

Kita bersyukur karena memiliki bulan mulia yaitu Ramadan, yang kita temui di setiap tahunnya. Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan shaum, dimana kita menjalankan berbagai ibadah Ramadan sebagai sistem kendali spiritual, moral dan akhlak. Dari shaum dan qiyam (shalat tarawih) hingga itikaf, sedekah, tilawah al-Quran dan ibadah lainnya. Berbagai ibadah tersebut menjadi hal yang sudah lumrah dan rutin kita lakukan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Harapannya, kualitas ibadah kita semakin meningkat hingga menggapai derajat taqwa yang makin ideal. 

Ramadan juga dikenal sebagai "Syahrul Qur'an" (bulan al-Quran). Mengapa demikian? Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam yaitu pada bulan Ramadan. Surat yang pertama diwahyukan yaitu surat al-Alaq: 1-5. Allah berfirman, "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)...." (QS. al-Baqarah: 185) 

Selain menjelaskan tentang (1) diwahyukannya al-Quran, ayat tersebut juga menegaskan bahwa al-Quran adalah (2) petunjuk, (3) penjelasan tentang berbagai petunjuk, dan (4) pembeda antara yang benar dan batil. Karena itu pulalah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, para sahabat dan para ulama era berikutnya lebih giat dalam membaca, memahami dan merenungi ajaran sekaligus pesan-pesan al-Quran pada momentum bulan Ramadan. Para teladan umat Islam tersebut kerap mengkhatamkan al-Quran berkali-kali. 

Solusi Alternatif Qur'ani 

Salah satu solusi agar terhindar dari berbagai penyakit sosial, termasuk dari dampak buruk media adalah al-Quran. Ia adalah asy-Syifa atau obat penawar. Allah berfirman, "Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. al-Isra’: 82). Bahkan pada ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa al-Quran menjadi "rahmat". Maksudnya, sebagai tanda kasih sayang Allah kepada kita sekaligus sebagai rujukan kita dalam menebar kedamaian juga kasih sayang kepada sesama ciptaan-Nya.  

As-Sa’di dalam kitabnya, "Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan", menjelaskan bahwa al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit, baik jiwa maupun raga. Menurut Imam Ibnu Katsir, al-Quran menyembuhkan keraguan dan kemunafikan. Dalam pandangan Fakhruddin ar-Razi dan Asy-Syinqithi, al-Quran dapat menyembuhkan penyakit jasmani. Dalam konteks kekinian, tentu termasuk penyakit atau dampak buruk media yang didasari oleh penyakit jiwa dan mental. 

Menurut Ibnul Qayyim, penyembuhan dengan al-Quran sangat dipengaruhi oleh iman, tawakal dan yakin yang dimiliki oleh orang yang membacanya. Itulah modal penting agar proses penyembuhan berlangsung sukses. Agar merasakan dampak syifa ("pengobatan") sekaligus syafaat al-Quran, maka kita mesti menjadi sahabat al-Quran. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya”. (HR. Muslim)

Menurut sebagian ulama, "bersahabat" dengan al-Quran tidak cukup di level membaca, tapi sampai mendakwahkannya. Praktisnya, yaitu (1) membaca (2) mendengarkan bacaan. (3) men-tadabbur yaitu memahami dan mengkaji, (4) mengamalkan, (5) menghafalkan, dan (6) mendakwahkan al-Quran. Insyaa Allah bila kita ikhlas dan sungguh-sungguh menjalankannya, maka kita bakal terhindar dari bencana media, bahkan dapat mencapai derajat taqwa yang semakin tinggi sebagaimana tujuan shaum Ramadan yang kita tunaikan selama sebulan penuh. (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku "Pendidikan Ramadan" 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an