Selamat Jalan Bang Muhamad Muhar!


Innalillahi wa Inna ilaihi rooji'un, itulah ungkapan reflek ketika saya mendapat kabar meninggalnya saudara sepupu kami Bapak Muhamad Muhar, akrab saya sapa Bang Muhar, pagi menjelang sahur Sabtu 21 Februari 2026. Kabar tersebut saya peroleh dari adik saya, Rafik Jumalik (Bapaknya Fiqi), Anggota BPD Desa Golo Sengang, tetangga Desa Mata Wae.   

Informasi yang sama saya peroleh dari paman saya atau sepupu ibu saya, Bapak Abdul Mispaki, yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah. Rupanya, kabar meninggalnya Bang Muhar telah menyebar viral di media sosial sejak pukul 03.00 WITA, sejak kabar meninggalnya disebar oleh pihak keluarga ke keluarga besar yang berada di berbagai kota di Indonesia. 

Hubungan Keluarga 

Bapaknya Bang Muhar meninggal pada Rabu 15 Oktober 2025 sekitar pukul 12.17 WIB di RSUD Komodo di Merombok, Manggarai Barat, NTT. Kakek saya dari jalur ibu dan kakeknya dari jalur bapak adalah adik kakek. Kakek saya adalah adik bungsu dari beberapa bersaudara. Semuanya memiliki keturunan dan menyebar ke berbagai kota. Jadi, kami satu generasi dan satu dalam bingkai keluarga besar. 

Saya bertemu terakhir dengan Bang Muhar, sekira tahun 1992 silam. Saat itu, saya menemani nenek saya, Nenek Timur, yang sedang silaturahim ke keluarga di Naga, Mata Wae. Setelah itu, saya tidak bertemu langsung dengan beliau lagi. Namun beberapa kesempatan, kami masih sempat berkabar melalui media sosial. Bahkan beberapa hari lalu masih bertanya ke saya, "Bagaimana kabar Pak Ustadz?". 

Kesan dan Kenangan 

Bang Muhar adalah tokoh muda Mata Wae yang mendapat amanah sebagai Kepala Desa Mata Wae untuk periode 2002-2028. Kepemimpinannya baru berlangsung beberapa tahun sejak pelantikan. Berbagai program desa dijalankan tentu dengan berbagai keterbatasan dan dinamikanya. Namun harus diakui, ia sukses memimpin Mata Wae sebagai tempat pelaksanaan beberapa event tingkat kecamatan Sano Nggoang. 

Sedianya Februari 2026 ini saya dan beberapa kawan di tanah rantauan akan mengadakan diskusi publik seputar pembangunan dan pengelolaan dana desa. Bahkan saya sudah menghubungi narasumber sejak Desember 2025 lalu. Menurut rencana, narasumber 3 orang yaitu unsur penegak hukum dari Mabes Polri, KPK dan aktivis sekaligus peneliti. Salah satu kepala desa dari puluhan desa yang diundang untuk mengikuti acara online ini adalah Bang Muhar.   

Sepengetahuan saya, Bang Muhar adalah sosok pekerja keras dan telaten, ayah yang tegas dan penuh cinta, dan pemimpin yang pandai bergaul dan akrab dengan siapapun. Ia juga sosok yang akrab dengan semua keluarga besar di berbagai kota. Dalam berbagai momentum, ia sering berkabar dan bertanya tentang aktivitas. Keakrabannya dengan semua kalangan tergambar dari status media sosial banyak kalangan yang berisi tentang kepergiannya kali ini.

"Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa ‘aidz hu min ‘adzaabil qobri wa fitnati hi wa min ‘adzaabin naar," itulah doa terbaik untuk Bang Muhar. 

Kepergian Bang Muhar adalah duka bagi kami keluarga besar dan warga Desa Mata Wae. Sosok yang kerap menyapa dan berkabar itu telah tiada. Kesantunan dan keakraban yang tulus menjadi saksi nyata berapa sosoknya perekat keluarga besar. Berbagai kegiatan apapun di lingkungan keluarga besar selalu ia kabarkan. Minimal kami yang di rantau mendapatkan informasi dan kabar terkini. Kini sosok yang murah senyum itu telah pergi memenuhi panggilan Penciptanya, Allah, selamanya. 

Meninggalnya Bang Muhar secara mendadak adalah bukti nyata bahwa ajal kematian itu pasti adanya. Ini jadi alarm bagi kita semua bahwa setiap yang bernyawa pasti menemui ajal kematian. Setiap kita memiliki jadwal masing-masing sesuai dengan jadwal dari-Nya. Karena itu, mari siapkan amal terbaik. Terus perbaiki diri, tunaikan kewajiban seperti shalat lima waktu, shaum ramadan, zakat dan ibadah sunah. Akhirnya, selamat jalan Bang Muhar, doa terbaik keluarga besar menyertaimu! (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Belasan Biografi Tokoh 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Anatomi dan Klasifikasi Ayat-Ayat Al-Qur’an