Urgensi Keteladanan Di Dunia Pendidikan



Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia masih saja mengalami berbagai masalah dan tantangan serius juga pelik. Dari guru dicela secara terbuka oleh para siswanya dan mahasiswa tersangkut kasus amoral, hingga oknum dosen terlibat kasus korupsi dan berbagai kasus lainnya. Bahkan tak sedikit para penggawa pendidikan yang terjebak pada kasus hukum seperti korupsi, perselingkuhan dan pemalsuan ijazah juga gelar. 

Hal tersebut terungkap dalam acara Pengajian Bulanan Hari Ber-Muhammadiyah Keluarga Besar Muhammadiyah dan Aisyiyah Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang berlangsung pada Ahad 3 Mei 2026 di Masjid Mujahidin, Sumber, Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini dilangsungkan dalam rangka meneguhkan silaturahim keluarga besar Muhammadiyah dalam lingkup Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumber. 

Pada kajian yang bertema "Refleksi Hardiknas untuk Peradaban Keislaman dan Keindonesiaan" ini menghadirkan Prof. Dr. H. Hajam, MA., Wakil Rektor III UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon, sebagai narasumber tunggal. Mengawali materinya Prof. Hajam, demikian ia akrab disapa, menyampaikan betapa pentingnya pendidikan dalam memajukan bangsa, termasuk dalam perjalanan sejarah bangsa kita: Indonesia, yang pada 17 Agustus 2026 nanti genap berusia 81 tahun. 

Menurut Prof. Hajam, dunia pendidikan sering mengalami berbagai masalah pelik, termasuk perubahan kurikulum yang masih kerap terjadi. Hal ini, lanjut dia, sedikit banyak mempengaruhi tingkat keberhasilan pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang ditegaskan dalam pembukaan konstitusi negara kita. Hal ini tentu menjadi bahan evaluasi struktural terutama oleh pemerintah sebagai penerus kebijakan.  

Mengafirmasi Prof. Hajam, bila kita telisik, berbagai masalah pendidikan masih sering muncul belakangan ini. Misalnya, tak sedikit guru yang dicela oleh muridnya hanya karena salah paham. Ada juga lembaga pendidikan yang mahasiswanya tersangkut kasus amoral. Hal ini merupakan efek samping dari pemahaman bahwa pendidikan sekadar transfer pengetahuan, bukan membentuk karakter unggul. Bahkan ilmu sering dipahami secara sekuler, bukan secara integratif dan utuh. 

Pemahaman yang keliru disebabkan oleh proses belajar yang keliru. Di sinilah perlunya penguatan keilmuan secara integratif, sehingga bisa berdampak pada pengamalan yang benar dan berdampak baik. Ilmu yang benar akan menyentuh akal, hati dan tingkah laku. Karena itu, tiga hal tersebut saling terkait dan mesti mendapat perhatian yang sama. Bila berlangsung dengan baik, maka terbentuk karakter dan akhlak baik. Ujungnya akan terlahir generasi emas baru. 

Pendidikan mencakup pendidikan keluarga, lingkungan dan formal seperti sekolah. Secara khusus, pendidikan keluarga memiliki posisi penting. Di sinilah keteladanan menjadi urgen dan menentukan. Orangtua yang layak menjadi teladan besar kemungkinan akan dijadikan contoh oleh anak atau anggota keluarganya. Di lingkungan pendidikan formal, guru atau dosen juga mesti menjadi teladan dalam kebaikan. Baik dalam perkataan dan perbuatan maupun dalam sikap sehari-hari. 

Elemen yang menjadi perhatian berikutnya adalah lingkungan sosial. Tokoh masyarakat perlu menjadi teladan kebaikan juga. Bila pendidikan keluarga, lingkungan dan lembaga formal sudah dilingkupi keteladan yang baik, maka besar kemungkinan akan memberi dampak baik bagi kemajuan pendidikan secara menyeluruh. Bila proses pendidikan berlangsung dengan baik, maka akan terbentuk keluarga, sekolah dan masyarakat beradab dan kelak menjadi batu bata terbentuknya bangsa dan negara yang berkemajuan. (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku "Muhammadiyah; Ide, Narasi dan Karya" 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Mengenang TGH. Musleh Kholil