Ketika Cinta Berujung Tragis


Rafa adalah anak muda berusia 18 tahun yang baru setahun lulus dari sebuah sekolah menengah. Lelaki berparas coklat ini sudah dikenal oleh Mita sejak kecil. Walau usianya lebih tua 4 tahun dari Rafa, Mita begitu tertarik untuk menjalin hubungan pertemanan. Bahkan belakangan sampai berpacaran yang berujung tragis: penjara, terluka dan meninggal dunia. 

"Mas, bisa beresin motorku ya, mau dipakai berangkat kuliah," ucap Mita pada Rafa di sebuah bengkel tempat Rafa bekerja. 

"Boleh Mba. Ngomong-ngomong, mengapa engga diantar sama saudara saja?", respon Rafa sembari bertanya dengan penuh penasaran. 

"Aku engga punya saudara Mas, pacar juga belum punya. Kalau Mas, gimana?", tanya Mita.

"Aku baru lulus sekolah, usia juga masih 18 tahun. Lebih muda dari Mba. Tapi aku ingin cepat menikah, biar bisa bangun rumah tangga," jawab lelaki yang berambut lurus ini. 

Tak lama kemudian, motor sudah bisa dipakai. Khawatir selama perjalanan ke kampus ban motor kembali pecah, Mita pun bercanda pada Rafa, dengan harapan Rafa berkenan mengantarnya hingga sampai kampus. Kebetulan Mita sedang mengikuti UAS semester 6. Bagi dia, Rafa adalah sosok yang bisa diandalkan untuk membantu dirinya. 

"Boleh Mba. Tapi sebentar saja. Soalnya ada beberapa motor yang mesti aku beresin," ucap Rafa. 

Berselang puluhan menit, mereka pun naik motor. Rafa menyetir motor, sementara Mita berada di belakang. Jarak tempuh ke kampus yang biasanya hanya belasan menit, kini ditempuh selama satu jam lebih. Sebab selama perjalanan keduanya terlarut perbincangan seputar pengalaman pribadi dan rencana masa depan masing-masing. 

Tak lama kemudian, Rafa kembali ke bengkel menggunakan jasa ojek online. Di sink ia fokus dengan pekerjaannya. Namun tetap tergoda oleh bayangan wajah Mita. Sosok gadis yang ternyata kerap nongkrong di Kafe kampus. Tak berselang beberapa menit, HP-nya berdering. Ternyata Mita menghubungi dan mengajaknya ke kosan yang lokasinya tak jauh dari kampus. 

Setelah memastikan pekerjaan yang tersisa diselesaikan oleh temannya di bengkel, Rafa pun mengiyakan. Ia turun dari motor ojek dan menanti Mita bersama motor kebanggaannya. Berselang beberapa menit, keduanya sampai juga di kosan Mita. Suasana kosan yang bersih dan penataan begitu rapih, membuat Rafa tertarik dan semakin terdorong untuk menjadi teman dekat Mita. 

"Mba Mita, kamar kosannya bagus juga ya," ujar Rafa dengan penuh semangat. 

"Ah biasa saja," komentar Mita singkat. 

Rafa dan Mita sendiri merupakan tetangga desa yang jaraknya sekira setengah kilometer lebih. Sejak kecil mereka sudah saling kenal dan kerap bermain di sawah dekat kompleks perumahan bersama teman-teman lainnya. Hanya saja, pada saat SMP dan SMA mereka jarang bertemu karena jaraknya berjauhan dan membutuhkan waktu lama.  

Setelah berbincang lama, keduanya bersepakat untuk menjalin hubungan lebih dekat, ya berpacaran. Dengan harapan suatu saat menjadi pasangan suami-istri dalam ikatan rumah tangga yang halal. Tapi mereka awali dengan saling mengenal lebih dekat melalui cara berpacaran. Setelah beberapa menit berlalu, Rafa pun berpamit pulang. 

"Mba, aku pulang dulu ya," ucap Rafa. 

"Oke Mas, terima kasih banyak ya," balas Mita sembari melambaikan tangan pada pacar yang baru diikat selama puluhan menit lalu itu.  

Waktu berlalu, hari berganti hari. Tiga bulan kemudian, Rafa mengajak Mita untuk berakhir pekan di sebuah pantai yang tak jauh dari kampus. Mita pun meng-iya-kan. Mereka pun berangkat bersama menggunakan motor Mita yang dibeli oleh pamannya beberapa bulan sebelumnya. Di sana mereka berbincang banyak hal sambil menikmati deru ombak pantai laiknya orang bersantai di pantai.  

Sekembalinya dari pantai, keduanya menuju kosan Mita. Selama perjalanan keduanya masih berbincang dan terlihat makin mesra. Karena hari sudah malam, Mita pun berinisiatif untuk mengajak Rafa tidur di kamar kosong sebelah kamar kosannya. Mita kebetulan dipercaya oleh pemilik kosan untuk memegang kunci kamar kosan yang baru ditinggal oleh mahasiswi lain yang sudah lulus kuliah. 

Rafa pun beristirahat. Ia tertidur hanya satu jam lebih. Karena suhu panas, ia kesulitan tidur. Tak menyia-nyiakan waktu, ia pun mengajak Mita untuk berbincang mengisi kekosongan di tengah malam. Nyamuk yang kerap menggigit tak menyudahi obrolan dua sosok muda yang kini candu pasaran ini. Keduanya kian menyimpan rasa. 

Rafa sepertinya tergoda bisikan setan. Apalagi Mita membuka kerudung dan mengenakan kaos oblong ketat, Rafa kehilangan rem. Obrolan santai selama puluhan menit membuat nafsu liarnya menggoda Mita untuk berhubungan badan. Namun Mita yang kini sudah semester 7 itu menolak. Rafa tak tinggal diam. Ia tetap memaksa gadis 22 tahun itu.  

Tenaga tak sepadan, membuat Mita tak mampu bertahan. Rafa pun melakukan tindakan bejat itu dengan cara memaksa. Namun hati Mita tetap melawan. Ia bersuara lantang, dengan harapan tetangga dan pemilik kosan mendengar lalu membantu untuk menyudahi tindakan amoral yang dilakukan oleh sosok yang mesti melindunginya itu. 

Rafa memilih jalan kasar. Ia memukul pacarnya itu dengan tangan kosong. Pengalaman sebagai tukang bengkel selama setahun terakhir membuat pukulannya bertenaga. Mita sempat melawan, namun pukulan tangan Rafa terlalu bertenaga. Dua helm baru di dekat kasur pun telah dipukulkan pada kepalanya hingga luka lebam dan berdarah. 

"Tok tok tok....," suara helm dengan suara keras. 

Mita sepertinya mulai melemah dan tak kuat menahan sakit. Suara teriakannya menghilang dan tak bertenaga lagi. Pengalaman latihan sikat saat SMA tak membuatnya mampu membela diri. Kondisi ini tak membuat Rafa bersedih. Ia pun mengambil gunting dekat jendela kosan dan menusukkan di perut Mita beberapa kali tanpa merasa berdosa. 

"Silahkan rasakan Mita...," ucap Rafa dengan nada marah. 

Mita rupanya sudah tak bernyawa lagi. Pukulan tangan dan helm yang dilakukan Rafa membuatnya tak bernyawa lagi. Rafa pun mulai menyusun alibi, dengan harapan kelak ia dianggap bukan pembunuh Mita. Ia menutup jenazah korban dan mengunci pintu kosan dengan satu kunci dari kunci ganda yang tersedia dekat jendela. 

Berselang tiga jam, kini pukul 08.00 pagi. Setelah pulang ke rumahnya, Rafa kembali datang ke kosan Mita. Ia pura-pura menggedor pintu. Walau hatinya tetap merasa bersalah, namun ia tetap memilih menutupi kejadian sebenarnya. Karena tak ada jawaban, ia pun bertanya dan meminta bantuan ke pemilik kosan yang jaraknya hanya 100 meter dari kosan. 

Pemilik kosan pun datang dan mengetuk pintu. Ia melakukan itu selama puluhan menit. Ia curiga pasti ada sesuatu. Apalagi Mita yang sudah nge-Kos 2 tahun itu tidak menjawab. Pemilik kosan pun memilih untuk menelpon ke nomor WhatsAp Mita. Namun tak juga ada jawaban. Walau pun HP aktif, tapi tak ada tanda-tanda diangkat. 

"Saya juga sudah menelpon tadi Pak, tapi tak ada jawaban. Saya mau menjemput untuk antar dia ke kampus. Dia minta kemarin, karena ada kegiatan persiapan KKN ke luar kota," ucap Rafa. 

Tak lama kemudian, pemilik kosan melapor ke RT dan Hansip terdekat. Mereka bersepakat untuk mendobrak pintu kosan. Setelah pintu terbuka, mereka dikagetkan dengan sosok Mita yang tertutup kain panjang dan kepalanya lebam, serta lantai dibanjiri darah dari perutnya. Bagi pemilik kosan, kejadian semacam ini sangat baru dan mengagetkan. 

Tak menunggu lama, mereka pun melapor ke Polsek terdekat. RT dan Hansip menuju Polsek, sementara Rafa memilih berpulang ke rumah dan melapor ke keluarga Mita. Polisi dari Polsek pun tiba di lokasi. Setelah ditunggu, Rafa tidak bisa dihubungi. WhatsApp-nya chek list satu, pertanda HP-nya sudah tidak aktif lagi. Motor Mita juga tak ada di tempat. 

Dari berbagai pemeriksaan dan pendalaman digital, polisi dari Polsek dan Polres yang menangani kasus ini menyimpulkan pelaku pembunuhan Mita adalah Rafa. Kurang dari 1 x 24 jam, pihak berwajib sukses menangkap Rafa yang sudah melarikan diri ke luar kota. Walau awalnya menolak, Rafa akhirnya akui. Hal itu diperkuat oleh rekaman CCTV di pintu masuk kosan.   

Setelah dilakukan pemeriksaan, Rafa pun mengaku bahwa ia telah membunuh pacarnya karena menolak melakukan berhubungan badan. Ia mengaku setelah korban tidak bernyawa dengan sengaja menutupi korban untuk merekayasa situasi seolah-olah terjadi aksi pemerkosaan dan pembunuhan oleh orang tak dikenal. Lalu melarikan diri keluar kota untuk menghilangkan jejak. 

Tiga bulan berlalu. Kini Mita benar-benar meningal dan telah dikubur oleh pihak keluarga. Laptop dan HP baru telah rusak tak bisa dipakai lagi. Tersisa hanya motor.  Sementara Rafa dijerat dengan Pasal 458 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara. Pengadilan juga telah memutuskan Rafa dihukum penjara selama 15 tahun. 

Mita dan Rafa terjebak pada hubungan palsu alias pacaran yang bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka melakukan hubungan haram dan berujung kehilangan nyawa bagi Mita dan penjara 15 tahun bagi Rafa. Hubungan yang konon awalnya baik, kini jadi cerita buruk keluarga besar. Begitulah pacaran, ia cinta palsu yang selalu berujung tragis. 

Pada banyak kasus, umumnya perempuan selalu menjadi korban, dari tindakan kekerasan fisik dan seksual hingga hamil dan meninggal dunia. Tapi naif-nya, begitu banyak contoh kasus yang diberitakan berbagai media massa, namun masih ada saja kaum muda bahkan usia pelajar yang berpacaran. Apakah itu pertanda mereka sudah siap dan relakan diri menjadi korban berikutnya? (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku Antologi Cerpen "Malapetaka Pacaran" 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang TGH. Musleh Kholil

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok