Tradisi Menulis; Tantangan dan Jalan Keluar
Tantangan Penulis Pemula
Pertama, konsistensi menulis. Saya harus akui bahwa di dunia kepenulisan, saya adalah pemula. Levelnya masih ingusan, jauh jaraknya dengan para suhu yang sudah menulis banyak karya, baik buku dan novel maupun artikel lepas yang dipublikasi di berbagai media. Dalam beberapa momentum, saya kadang diserang rasa malas, sehingga tidak bisa menghasilkan satu tulisan pendek sekalipun. Bila dibiarkan terus berlalu tanpa jalan keluar, maka saya bakal terjebak dalam ranjau berbahaya: tidak punya karya tulis.
Kedua, menjaga tradisi penunjang. Salah satu modal seorang penulis selain menulis adalah membaca. Membaca adalah penunjang utama. Ia merupakan jendela ilmu dan ide. Pada saat membaca, saya memperoleh banyak inspirasi yang bila dirangkai bisa menjadi satu tulisan, bahkan banyak tulisan. Tapi lagi-lagi, saya mengalami tantangan pelik berupa malas baca. Mungkin sebagian orang menilai saya sudah pada level gila baca. Tapi pada dasarnya saya masih kerap dilanda bencana malas baca. Baca sekali, malas berkali-kali.
Ketiga, jam terbang. Ada banyak penulis yang pernah saya ajak berbincang perihal kepenulisan. Hampir semuanya menyepakati bahwa jam terbang adalah kunci penting penulis pemula agar bisa naik kelas. Tapi inilah penyakit saya: mengikuti berbagai forum sekadar menyenangkan ajakan teman dan para penulis papan atas. Sesekali hendak mendengar pengalaman mereka, selebihnya asal hadir saja. Penyakit ini datang berkali-kali, bukan sekali. Memang perlu komitmen untuk melawan dan menyudahinya secara seksama.
Jalan Keluar
Dalam kondisi demikian, paling tidak beberapa hal berikut mesti saya perhatikan. Pertama, mematangkan niat dan tekad. Menulis asal menulis bukan saatnya lagi. Itu komitmen saya belakangan ini. Menulis harus dibangun oleh niat yang kuat. Saya mesti mematangkan niat saya, sehingga aktivitas menulis bukan asal jadi. Hal lain, tentu saja tekad dari dalam diri. Tekad yang dibangun dari dalam diri lebih kuat dampaknya pada aksi nyata daripada sekadar ikut-ikutan. Tekad yang kuat bakal mendorong bahkan terus menagih saya untuk menulis dan terus menulis setiap hari.
Kedua, membuat jadwal dan disiplin waktu. Belajar dari beberapa teman yang suka menulis, saya semakin menyadari bahwa menulis itu perlu dijadwal. Misalnya, saya menulis jam berapa dan apa saja. Saat ini saya berkomitmen untuk menulis setiap hari. Dalam kondisi apapun, saya memaksa diri agar bisa menghasilkan tulisan di setiap harinya. Untuk level buku, mungkin perlu perjuangan tingkat tinggi, tapi dalam keterbatasan diri saya berupaya untuk menulis artikel setiap hari. Saya disiplin dan konsisten melakukannya selama 5 tahun terakhir hingga saat ini.
Ketiga, bertekad untuk membaca setiap hari. Menulis itu dampak lanjutan dari tradisi baca yang terjaga. Rerata penulis kawakan adalah pembaca yang aktif. Bahkan mereka sudah sampai pada level gila baca. Mereka bukan saja membaca buku dan artikel, tapi juga kejadian dan fenomena sekitar. Bagi mereka, lingkungan dan fenomena sosial adalah inspirasi paling kaya untuk menghasilkan karya tulis berkelas. Walau pun masih pemula, saya sedang berupaya untuk mengikuti jejak mereka. Membaca buku, minimal satu buku dalam sehari. Di samping artikel di berbagai media.
Keempat, aktif mengikuti berbagai forum literasi. Saya setuju bahwa jam terbang itu sangat dipengaruhi oleh aktivasi diri. Jam terbang bukan sekadar jadwal undangan menjadi narasumber, yang utama adalah mengikuti berbagai forum literasi seperti bedah buku, launching buku, seminar keilmuan, workshop tematik dan berbagai macam forum diskusi. Hal itulah yang saya lakukan selama satu dekade terakhir. Ada ratusan forum yang sudah saya ikuti, baik bersertifikat maupun sekadar ikut-ikutan.
Dunia kepenulisan adalah dunia yang sangat mulia, kaya pembelajaran dan penuh inspirasi. Sebagai pemula, saya harus berani berbenah dan meningkatkan jenjang pembelajaran. Rasa malas dan penyakit asal-asalan tak boleh dipelihara, tapi harus disudahi. Berbagai tantangan mesti disingkirkan secara sungguh-sungguh, lebih dari sekadar mengikuti trend para penulis kawakan. Tantangan yang ada harus jadi pemicu transformasi diri, dari sekadar ikut-ikutan menjadi pencipta karya: buku, artikel dan serupanya. (*)
* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

Komentar
Posting Komentar