FUSI dan Tiga Tokoh Pendiri PUI


INDONESIA adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan yang sangat besar. Salah satunya adalah elemen atau organisasi masyarakat keislaman. Dalam berbagai buku dan tulisan para peneliti atau penulis disebutkan bahwa salah satu ormas Islam di Indonesia yang cukup tua dan berkontribusi besar pada saat perlawanan kepada penjajah menjelang kemerdekaan dan pada proses pendirian negara kesatuan republik Indonesia adalah Persatuan Umat Islam (PUI). 

PUI sendiri ditandai dengan disahkannya perhimpunan Persjarikatan ‘Oelama, pimpinan KH. Abdul Halim, oleh Pemerintah Hindia Belanda berdasarkan Gouvernment Besluit Nomor 43 Tahun 1917, tertanggal 21 Desember 1917 M / 6 Rabi’ul Awal 1336 H. Dalam Sidang Majelis Syuro, tanggal tersebut disepakati serta ditetapkan sebagai hari lahir PUI dan kemudian dicantumkan dalam Anggaran Dasar PUI Pasal 1 Ayat 2 yang disahkan pada tanggal 28 Desember 2019 M/ 1 Jumadil ula 1441 H.

PUI merupakan fusi dari dua perhimpunan besar yang didirikan oleh tokoh-tokoh tersebut, yakni Persjarikatan ‘Oelama yang berubah nama menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI) pimpinan KH. Abdul Halim yang berkedudukan di Majalengka dan Al-Ittihadijatoel Islamijjah (AII) yang berubah nama menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) pimpinan KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi, pada tanggal 5 April 1952, dengan satu tujuan, yakni menggalang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta untuk mengurangi pertentangan dan perpecahan diantara Ummat Islam. 

PUI terlahir dari kepedulian terhadap nasib bangsa oleh tiga tokohnya yakni KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, dan Mr. R. Syamsuddin, untuk berjuang melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, dan politik perpecahan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta memiliki peranan penting dalam menyusun narasi besar lahirnya NKRI sebagai anggota BPUPKI. 


Tiga Tokoh Pendiri PUI 

Pertama, KH. Abdul Halim. Beliau lebih dikenal dengan nama Kiai Abdul Halim, lahir di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Juni 1887. Beliau meninggal di Majalengka pada 7 Mei 1962 pada umur 74 tahun. Sejak kecil beliau tergolong anak yang gemar belajar. Terbukti beliau banyak membaca ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu-ilmu kemasyarakatan. Ketika berumur 10 tahun beliau belajar al-Qur'an dan Hadis kepada KH. Anwar, yang sekaligus menjadi guru pertamanya di luar keluarganya sendiri. KH. Anwar merupakan seorang ulama terkenal dari Ranji Wetan, Majalengka. Sebagai penggemar ilmu, Kiai Abdul Halim juga mempelajari disiplin ilmu lainnya, tidak pandang apakah yang menjadi gurunya sealiran (Islam) ataupun tidak, asalkan dapat bermanfaat bagi perjuangannya kelak.

Kedua, KH. Ahmad Sanusi. Beliau dilahirkan pada 18 September 1888 di Kampung Cantayan Desa Cantayan, Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi. Daerah tersebut duhulunya bernama Kampung Cantayan, Desa Cantayan Onderdistrik Cikembar, Distrik Cibadak, Afdeeling Sukabumi. Kiai Ahmad Sanusi adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan KH. Abdurrohim (Ajengan Cantayan, Pimpinan Pondok Pesantren Cantayan) dengan Ibu Empok.

Sejak kecil Kiai Ahmad Sanusi hidup di lingkungan keluarga yang religius sampai usia remaja. Di lingkungan keluarga inilah, beliau mendapat pendidikan Agama Islam yang begitu ketat, ia mengusasi berbagai disiplin Ilmu Agama Islam, seperti Ilmu Nahu, Sharaf, Tauhid, Fiqh, Tafsir, Mantiq, dan lain-lain. 

Dengan demikian, sejak kecil beliau telah mengalami proses internalisasi terhadap masalah-masalah keagamaan. Selain itu, orang tua beliau menginginkan anak-anaknya menjadi serang ulama, sehingga proses pendidikan keagamaan telah dilakukan terhadapnya, juga kepada saudara kandung lainnya, sejak usia dini. Keinginan tersebut merupakan fenomena umum yang menghinggapi harapan para kiai di Pulau Jawa.

Menginjak usia dewasa, Kiai Ahmad Sanusi menggenapkan rukun Islam, yakni ibadah haji di Mekkah. Namun setelah selesai ibadah haji, beliau tidak langsung pulang ke kampung halamannya. Beliau mukim di Mekkah selama lima tahun untuk memperdalam ilmu keislamannya. Beliau kemudian berguru kepada beberapa ulama lokal maupun ulama pendatang (mukimin). Pada umumnya, para ulama yang didatangi oleh beliau adalah mereka yang berasal dari Mazhab Syafi’i.

Tahun-tahun pertama mukimnya Kiai Ahmad Sanusi di Mekkah, terjadi antara tahun 1910-1911, beliau bertemu dengan KH. Abdul Halim (Kiai Abdul Halim) dari Majalengka. Oleh karena mereka berasal dari satu daerah yang sama, yakni Tatar Pasundan pertemuan tersebut berkembang menjadi sebuah persahabatan. Konon katanya mereka bersepakat bahwa jika kelak kembali ke Indonesia, mereka akan berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan Belanda melalui pendidikan.

Sekitar tahun 1911, Kiai Abdul Halim pulang ke kampung halamannya, sedangkan Kiai Ahmad Sanusi masih bermukim di Mekkah karena belum menyelesaikan pendidikan agamanya. Ketika Kiai Ahmad Sanusi pulang ke Cantayan pada Juli 1915, hubungannya dengan Kiai Abdul Halim diteruskan dan mereka mulai berusaha mengimplementasikan cita-citanya membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan melalui pendidikan. Dari hubungan itulah, kelak di kemudian hari lahir sebuah organisasi yang bernama Persatuan Umat Islam (PUI) yang merupakan organisasi massa hasil fusi antara PUI dan PUII.

Ketiga, Mr. Rd. Sjamsoeddin atau Syamsuddin. Mr. Syamsuddin adalah Wali kota Sukabumi pertama. Beliau juga adalah ketua Gerakan 3A, anggota BPUPKI, Menteri Penerangan dan juga Wakil Perdana Menteri I pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Beliau lahir pada 1 Januari 1908 di Sukabumi dan meninggal pada 15 Oktober 1950, pada usia 42 tahun.  

Mr. Syamsuddin merupakan anak dari Bapak Raden Hadji Ahmad Juwaeni. Menempuh pendidikan di Sekolah Agama di Sukabumi, 1915. Kemudian di Europesche Lagere School, Sukabumi, 1926. Lalu di Algemene Middelbare School, Bandung, 1929 dan Rechtoge School, Universitas Leiden, Jurusan Hukum, Belanda, Lulus (Predikat Cum Laude) 4 Oktober 1935. Organisasi yang pernah didirikan yaitu Union of the Islamic Community. 

Pada tahun 1942 beliau menjabat sebagai Ketua Muda Partai Indonesia Raya (Parindra). Lalu pada 18 April 1942 menjadi Ketua Gerakan 3 A. Selanjutnya pada tahun 1944 aktif di Al-Ittihadiyatul Islamiyyah alias Persatuan Ummat Islam (PUI). Kemudian pada tahun 1945 –1946 menjabat sebagai Komandan Hizbullah yang bermarkas di Pondok Pesantren Gunung Puyuh,  Sukabumi.

Fusi merupakan salah satu fase penting dalam sejarah perjalanan PUI. Kini usia Fusi PUI sudah genap berusia 69 tahun (5 April 1952 - 5 April 2021). Tokoh dan kader PUI sudah menyebar di berbagai sektor kehidupan publik, termasuk di berbagai lembaga pendidikan dan berbagai sektor beragam profesi dan sosial lainnya. Ide dan narasi PUI tentang keislaman, keormasan dan keindonesiaan masih menjadi mercusuar yang mewarnai perjalanan bangsa dan negara Indonesia hingga kini. Akhirnya, selamat memperingati Hari Fusi PUI ke-69 kepada seluruh keluarga besar PUI di seluruh Indonesia! (*)


* Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis Buku "Pendidikan Ramadan" 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah dan Teknik Konseling Kelompok

Sejarah Perkembangan Pendidikan Luar Sekolah