Postingan

Dari FDS Ke Penguatan Pendidikan Karakter

Gambar
HAMPIR sebulan terakhir publik terbawa arus dinamika pemberitaan berbagai media massa mengenai Five Day School (FDS). Polemik berawal ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Efendy mewacanakan hingga mengeluarkan kebijakan Full Day School (FDS)—yang belakangan berubah menjadi Five Day School (FDS)—yang mesti dilaksanakan oleh berbagai lembaga pendidikan baik sekolah maupun madrasah. Ya, pada 12 Juni 2017 Mendikbud mengeluarkan Permendikbub nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, yang tentu isinya berisi penguatan dari kebijakan Full Day School (FDS) yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Respon publik pun beragam, tentu sesuai dengan pandangan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kedua Ormas terbesar (Muhammadiyah dan NU) pun turut terseret dalam polemik tersebut. Kebijakan tersebut yang pada awalnya bernyawa pendidikan, belakangan justru berbau politis.

Konsep Dasar Kebijakan Pendidikan

Gambar
MENURUT U ndang-undang No mor 20 T ahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) , p endidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Landasan Teologis, Yuridis dan Filosofis Life Skill

Gambar
MENURUT Senge (2000) dalam Rohmalina Wahab (2012) , pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga siap digunakan untuk menyelesaikan problema kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya . [1]    

Konsep Life Skill Menurut Para Ahli dan Kementrian Pendidikan Nasional

Gambar
KEBUTUHAN dasar manusia, pembangunan yang dilakukan semua bangsa bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kualitas hidup manusia ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan yang paling utama bagi manusia, yang disebut dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar merupakan berbagai keperluan yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Kebutuhan dasar ini tidak statis, tetapi bersifat dinamis dan berkembang sesuai tingkat peradaban dan kesejahteraan manusia.

Memupus Budaya Sampah Perguruan Tinggi

Gambar
SANGAT menarik tulisan Jejen Musfah yang berjudul “Budaya Orang Pendidikan” di Harian Republika edisi 22 Agustus 2016 lalu. Walau sudah lama, tulisan itu masih sangat relevan untuk dikaji secara mendalam dalam konteks untuk membangun—apa yang diungkap oleh Mohammad Naquib Al-Attas—pendidikan yang berkeadaban. Pada tulisan itu Dosen Pascasarjana Manajemen Pendidikan UIN Jakarta tersebut membentang secara terbuka beberapa budaya rendahan yang menjangkiti pendidikan tinggi di Indonesia dari level mikro, messo dan makro. Dalam diksi yang berbeda saya bisa menyebutkan kembali, misalnya mahasiswa yang suka dan bangga menyontek alias tidak jujur dalam ujian akademik, mahasiswa dan dosen yang asal-asalan dalam melakukan penelitian ilmiah dan menghadirkan produk ilmiah, manajemen yang lamban dan kerap mempersulit proses akadmeik, dosen yang gila jabatan dan gelar tanpa peningkatan kualitas ril, serta mahasiswa yang suka memanipulasi nilai dan karya ilmiah.

Perkembangan Pemikiran dalam Islam

Gambar
M UNCULNYA pemikiran Islam sebagai cikal bakal kelahiran peradaban Islam pada dasarnya sudah ada pada awal pertumbuhan Islam, yakni sejak pertengahan abad ke-7 M, ketika masyarakat Islam dipimpin oleh Khulafa’ al-Rasyidin . [1] Kemudian mulai berkembang pada masa Dinasti Umayyah, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketinggian peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah merupakan dampak positif dari aktifitas “kebebasan berpikir” umat Islam kala itu yang tumbuh subur ibarat cendawan di musim hujan. Setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun 1258 M, peradaban Islam mulai mundur. Hal ini terjadi akibat dari merosotnya aktifitas pemikiran umat Islam yang cenderung kepada ke- jumud -an (stagnan). Setelah berabadaban umat Islam terlena dalam “tidur panjangnya”, maka pada abad ke-18 M mereka mulai tersadar dan bangkit dari stagnasi pemikiran untuk mengejar ketertinggalannya dari dunia luar (Barat/Eropa).

Guru Sebagai Penentu Anak Berkarakter

Gambar
Menurut ajaran Islam, pendidikan adalah kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dalam dan kehidupannya. Pendidikan Islam sendiri merupakan disiplin ilmu yang di dalamnya mengandung berbagai dimensi. Seperti dimensi manusia sebagai subyek atau pelaku pendidikan (baik berstatus sebagai pendidik atau peserta didik), maupun dimensi landasan, tujuan, materi atau kurikulum, metodologi, dan dimensi institusi dalam penyelengaraan pendidikan. Dimensi-dimensi tersebut merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan pelaksanaan proses kegiatan pendidikan, dan masing-masing dimensi ini memiliki paradigma fungsional sendiri-sendiri dan saling terkait bersinergi dalam sebuah sistem pendidikan.